Photographer

Filtering by Category: Photography

Menarik

Added on by Ridzki Noviansyah.
“Menurut saya karya fotografi ini menarik sekali”

Kata-kata diatas adalah salah satu komentar yang terlalu sering saya dengar tentang sebuah karya fotografi, entah itu suatu dalam sebuah diskusi, seminar atau hanya obrolan-obrolan iseng. Syukur kalau setelah kata itu diucapkan si pemberi komentar dapat menjelaskan lebih lanjut mengenai kenapa karya foto tersebut menjadi menarik. Sialnya kebanyakan komentator berhenti sampai di sana saja. “Menarik” memang mungkin bukan kata yang salah, namun “menarik” juga tidak menjelaskan lebih banyak. Kata-kata serupa “menarik” yang sering kita jumpai di percakapan sehari-hari adalah “baik” dan “gitu”.

Sebagai contoh:

“Bagaimana gebetanmu yang itu?”
“yah orangnya baik kok”

atau

“Gitu maksud gw, paham kan?”
“he em”.

Kata seperti “menarik’ atau “baik” atau “gitu” memiliki suatu kelemahan karena belum tentu yang dimaksud oleh si pembicara sama dengan makna yang ditangkap oleh si pendengar.

Kembali ke pokok bahasan, ada beberapa hal yang menjadikan “menarik” sebagai kata pilihan untuk menjelaskan sebuah karya. Yang pertama adalah kurangnya kemampuan seorang fotografer untuk keluar dari dunia fotografi, padahal kemajuan teknologi memberikan akses bagi para fotografer untuk mendapatkan berbagai inspirasi dan informasi. Seringkali yang terjadi adalah para fotografer mencari inspirasi dalam bentuk sebuah foto pula. Karya-karya milik Cartier-Bresson, Trent Parke atau Alex Webb misalnya menjadi salah satu acuan favorit untuk membuat karya street photography. Padahal seorang fotografer seharusnya mampu dan mau untuk mendapatkan inspirasi dari berbagai karya yang lain seperti seni sastra, seni lukis, tarian atau novel-novel fiksi. Sesuatu yang berada di luar internet. Kurangnya inspirasi dalam bentuk lain ini, menurut saya membuat seseorang memiliki perbendaharaan kata yang sedikit.

Yang kedua, kata menarik menjadi pilihan utama karena kata itulah yang dipopulerkan menjadi standar umum kritik fotografi amatir. Bagi beberapa orang yang menyimak berbagai karya fotografi yang berseliweran di internet, kata ini akan sangat mudah dibaca berulang-ulang di kolom komentar. Sebagai sebuah kata “menarik” adalah kata yang aman, ia tidak baik dan tidak pula buruk dan sebagai kata yang aman ia mengurangi resiko dibully jika anda salah kritik.

Pada tulisan ini saya tidak hanya akan meminta anda membaca Murakami atau Kundera atau mendengarkan Beethoven lalu dilanjutkan The Raveonettes untuk mendapatkan inspirasi. Saya juga akan memberikan dua tawaran untuk memperluas ruang argumen, karena menurut saya kata “menarik” membuat kita malas untuk mengeluarkan argumen. Dua tawaran itu datang dalam bentuk kata yaitu kontekstual dan relevan.

Sebuah karya fotografi menjadi kontekstual jika ia mampu menjelaskan atau dijelaskan (oleh) kondisi zaman ketika si fotografer mengambil gambarnya atau pada di masa depan. Sebagai contoh, karya The Americans oleh Robert Frank adalah karya yang pada awalnya kontekstual untuk oleh publik Eropa, karena gaya fotografinya yang sangat candid sehingga menghasilkan foto yang — menurut majalah Popular Photography — meaningless blur, grain, muddy exposures, drunken horizons and general sloppiness. Gaya fotografi yang sama tidak diterima dengan baik oleh publik Amerika Serikat, karena mereka terbiasa dengan karya-karya dari Walker Evans yang sangat jelas dalam menggambarkan foto. Salah satu faktor yang mendukung publik Amerika Serikat untuk menyadari konteks The Americans adalah karena tulisan pengantar yang dibuat oleh Jack Kerouac. Dimana foto-foto milik Frank dianggap dapat mewakili karya sastra beat generation yang populer (dan kontekstual) pada saat itu.

Relevansi di lain hal, adalah ukuran untuk menilai seberapa pentingnya sebuah karya fotografi itu pada audiens yang dituju. Audiens ini adalah mereka yang mengamati fotografi; baik galeri, kurator, media, masyarakat umum atau kelompok tertentu. Sebagai sebuah karya yang lahir dari pemikiran yang subyektif, fotografi terkadang hanya menjadi relevan bagi si fotografer dan tidak bagi orang lain. Karena itu seorang fotografer yang ingin menyampaikan idenya harus awas dan sadar apakah karyanya tersebut relevan bagi audiensnya.

Sebagai contoh untuk ukuran Indonesia, dimana karya-karya yang beredar adalah karya-karya yang menonjolkan keindahan (baik model berbaju minim, maupun pemandangan alam bebas) sebuah karya yang mengeksplorasi sisi personal adalah karya yang menjadi langka. Karya seperti ini menjadi relevan karena ia memberikan sesuatu yang baru dan memberikan alternatif untuk memandang fotografi. Tentu karya-karya fotografi sebagai ekspresi personal sudah beredar luas di luar sana, namun ketika kita bicara tentang publik Indonesia karya seperti ini menjadi relevan karena sebagian besar orang awam akan hal tersebut.

Sekian saja tawaran dari saya, mudah-mudahan tawaran ini dapat membuat diskusi tentang fotografi (baik karya maupun pemikiran) berlanjut dan tidak berhenti dengan komentar menarik, kontekstual atau relevan. Saya juga harap tulisan ini dapat ditanggapi dan tidak berhenti dengan komentar “Wah menarik sekali tulisanmu Ki!”

Me and My City – Sebuah Upaya Berpameran

Added on by Ridzki Noviansyah.

Beberapa waktu yang lalu, saya akhirnya melihat sendiri karya-karya yang dipamerkan dalam Me and My City dan mendengar langsung dari para fotografernya tentang karya mereka. Pada tulisan ini. saya akan fokus terhadap pameran secara keseluruhan karena ulasan-ulasan mengenai karya dan perbincangan di media sosial sudah disampaikan oleh rekan-rekan yang lain. Sebelum saya memulai tulisan ini, saya nampaknya harus memberi tahu dua hal; yang pertama adalah saya kenal semua yang terlibat dari pameran ini, baik para fotografer, penyelenggara, dan sponsor. Yang kedua saya merasa pameran ini dapat mencapai banyak pihak, akan tetapi sialnya hal itu tidak terjadi. Alasan yang kedua adalah kenapa saya membuat tulisan ini.

Saya bertemu Swan Ti, Wilson dan Tommy sehari sebelum karya ini dipasang. Mereka bertiga mewakili ketiga pihak yang terlibat dalam pameran ini yaitu fotografer, penyelenggara, dan sponsor. Pada saat itu saya bertanya mengenai acara pembukaan dan artist talk, namun saya tidak mendapat jawaban yang jelas. Padahal ada beberapa pertanyaan yang ingin saya sampaikan, seperti bagaimanakah para peserta ini diseleksi, apa keterlibatan Leica Indonesia, dan yang paling utama: apa yang ingin disampaikan dalam pameran ini. Setelah pameran ini dibuka, saya melihat ulasan beberapa teman di linimasa beserta dengan beberapa gambar dari karya Asih dan Ista. Tak lama muncullah cuitan dari Arief Rahman yang menyatakan foto bagus jelek sih relatif yang penting kamera mahal. Cuitan ini lalu dibalas oleh berbagai rekannya. Pendek cerita, karena saya iseng, saya ambil link-nya dan saya letakkan di Facebook saya sambil melakukan tag kepada pihak-pihak yang terlibat tadi.

Keisengan saya menghasilkan reaksi yang saya harapkan; seperti bertambahnya berbagai tulisan mengenai pameran tersebut dan dialog dengan Arief Rahman di Twitter. Reaksi yang muncul ini bukan hanya datang dari penggiat social media dan fotografer yang terlibat, tetapi juga dari Agan Harahap dan Hikmat Darmawan. Berbagai reaksi ini, sayangnya, belum bisa menjawab berbagai pertanyaan saya. Hal ini disebabkan oleh tidak adanya forum publik yang mempertanggung-jawabkan hasil karya tersebut. Sampai akhirnya saya berkesempatan untuk melihat dan mendengarkan paparan dari para pelaku utama pameran itu.

Kamu, Kamu dan Kamu

Sebelum saya melanjutkan ulasan saya tentang pameran, nampaknya perlu saya jelaskan sekali lagi mengenai hubungan saya dengan pihak-pihak yang terlibat. Saya tidak hanya mengenal mereka yang terlibat secara langsung pameran ini tetapi saya juga berteman dengan mereka. Kami tidak hanya menjadi sekedar kawan diskusi atau mengadakan kerja sama atas proyek-proyek fotografi tertentu, tapi kami juga memiliki pandangan kolektif yang hampir sama.

Ini adalah hal yang menurut saya berbahaya.

Bahaya yang muncul bukan karena kami akan saling mengamini satu sama lain, akan tetapi kami akan menjadi kelompok yang eksklusif; kelompok yang tidak mampu atau tidak tahu bagaimana caranya membuka ruang dialog dengan kelompok-kelompok yang memiliki pandangan lain, seperti kelompok dengan yang mengamini cuitan dari Arief, atau kelompok yang lebih dekat dengan seni rupa seperti Mes 56 atau Ruang Rupa.

Pendek kata, kami memiiki ruang diskursus yang produktif akan tetapi ruang diskursus tadi diisi oleh wajah yang lo lagi, lo lagi—suatu kondisi yang pada akhirnya saya takutkan akan memandegkan kreativitas kami.

Karya yang kaya dan berada di muka

Permasalahan pada cuitan Arief tentang karya yang dipamerkan adalah dia merasa bahwa sebuah karya fotografi terbatas oleh alat yang digunakan. Jika menggunakan pandangan yang sama, semua orang dapat menilai bahwa sebuah masakan itu enak atau tidak berdasarkan panci yang digunakan oleh pemasak. Pandangan Arief mengenai subyektivitas dalam fotografi masih bisa saya terima, tentu saja jika itu didukung dengan berbagai alasan yang mendalam. Sialnya, argumen Arief tidak memiliki itu semua.

Kesimpulan di atas saya ambil setelah saya melihat langsung pameran dan berbicara dengan para pembuat karyanya. Ini terjadi pada artist talk yang diadakan pada tanggal 2 April 2016, beberapa minggu setelah pameran dimulai, suatu keterlambatan menurut saya.

Dalam karya-karya yang dipamerkan, kota memiliki interpretasi yang tidak jelas. Pada karya Tommy dan Wilson, kota berarti sebagian dari Jakarta yang diambil dari satu bagian waktu dan lokasi. Di karya Asih dan Ista, berbagai kota menjadi sebuah backdrop untuk semua perasaan mereka sehingga identitas kota menjadi buram. Pada karya Riva, identitas kota bahkan lebih dibuyarkan lagi atau bahkan dianggap tidak begitu penting ketimbang subyek yang dibahas.

Saya tidak akan membahas semua karya ini secara mendalam karena pembicaraan ini akan menjadi sebuah pandangan subyektif. Saya merasa berbagai karya dalam pameran ini memiliki kekayaan masing-masing dengan berbagai catatan. Catatan yang pertama adalah tidak jelasnya definisi sebuah kota dalam pameran ini, dimana kota didefinisikan seluas-luasnya sebagai subyek, obyek, dan kadang hanya keterangan, padahal salah satu tujuan dari pameran ini adalah untuk menjawab berbagai permasalahan tentang kota. Kedua, tujuan lain dari pameran ini adalah untuk meningkatkan kesadaran (awareness) tentang fotojurnalisme dan foto essay di kalangan fotografer muda, akan tetapi pameran ini tidak memiliki kapasitas untuk mencapai itu, baik dari pemilihan tempat, terlambatnya artist talk, tidak adanya undangan atau kerjasama dengan komunitas mahasiswa/anak muda, sampai tidak adanya caption dalam foto-foto yang dipamerkan tidak menunjukkan ini sebagai karya jurnalistik. Ketiga, artist talk pada pameran ini terasa tidak lebih dari diskursus eksklusif di antara orang-orang yang telah lama saling kenal, sehingga tidak muncul tanya jawab yang kritis (saya telah mencoba mengundang Arief untuk datang ke artist talk, namun dia tidak datang entah kenapa). Keempat, hampir semua karya ini adalah karya yang dibuat dalam tempo waktu yang singkat (pengecualian pada karya Tommy); ada kesan terburu-buru dan ketidakjelasan apakah proyek-proyek ini akan berubah bentuk di kemudian hari.

Akhir dari rangkaian – gema yang distruptif

Pameran Me & My City harus saya katakan sebagai pameran yang memorable--tidak karena karya-karyanya karena masih banyak pekerjaan para fotografer untuk mencari bentuk akhir dari proyek mereka--tetapi karena efek yang ditimbulkannya. Gema yang distruptif ini berhasil mengganggu kami sebagai komunitas yang terasa eksklusif sekaligus membuka ruang dialog dengan berbagai pihak; baik  yang pro maupun kontra, dan dengan mereka yang sudah terlibat dalam industri ini sebelumnya.

Tulisan dari Ben & Rara, ulasan dari Homer, Halbet,  dan Aji, serta cuitan yang saling berbalas dari Agan Harahap dan Hikmat Darmawan adalah bukti betapa distruptifnya pameran ini dan diskusi yang dihasilkannya. Kita sudah banyak menghabiskan waktu untuk menjalankan diskusi, akan tetapi apa yang akan kita lakukan untuk menjalankannya? Tatanan normatif yang berada pada diskusi fotografi yang sudah-sudah mungkin sudah harus kita tinggalkan dan beralih ke diskusi yang menjangkau lebih banyak komunitas lain yang berbeda disiplin ilmu. Hal ini pernah saya lakukan dengan The Photobook Club dengan menjangkau Creative Mornings Jakarta. Saya harap mereka yang terlibat dalam diskusi ini pun melakukan hal yang sama, semudah-mudahnya agar mereka tidak mandeg dalam kreativitas kita dan mampu terhubung dengan apa yang mereka sebut dengan kekinian di jaman sekarang.

Yoppy Pieter and The Art of Documenting the Elusive

Added on by Ridzki Noviansyah.

17,000 islands of imagination. That’s the tagline of last year’s guest of honour at the Frankfurt Book Fair, Indonesia. The amount of islands correlates directly with the numbers of ethnic groups, languages, foods and eventually the cultures. In a very superficial manner, these different cultures can be presented and always be presented by showcasing different ethnic groups and their cultural properties. They will look distinctly different from one another, but that’s it.

Why then we always see this superficiality? This cliché? For starter Indonesia is a huge country, as an Indonesian myself, it would have been impossible for me to visit all of the islands in my life time. Someone (who clearly have too much time on their hand), have made a calculation and he stated that it would take a person 45 years to be able to visit each one of them. Indonesians are then presented with dilemmatic situation, we are blessed with so many cultures and yet there are very little that we can understand.

These tangible cultures come in many forms; food, dances, houses, dress, music and poem as well as the landscapes. They have been able to invite and lure people from all over the world to document it in various form of art; from painting to photographs, from novel to short stories and countless others. Among those, I will concentrate on photography, a medium that has allowed travel postcards, guidebooks and mass media to portray Indonesia as that great exotic country.

As part of our national identity, our government had tried to educate us regarding the Indonesian cultures, however they can only go as far to introduce us to the superficial or the cliché, or what I like to call the tangible cultures. Indonesian photographers who were brought up with Indonesian education, then could only photograph what they understood about the tangible Indonesian cultures. The booming of the economy post Reformasi also allow these Indonesians to become tourists in their own country. We visited exotic places, pointed our lenses to the locals and snapped some holiday pictures. These activities of documenting the tangible culture resulted in two things; first it expanded the collective archive of Indonesian culture; second, it granted-to a certain degree-a superficial pleasure of understanding one’s culture without understanding “it”. “It” would refer to the philosophical nature, the elusive aspect, the intangible form of a culture.

On Saujana Sumpu, Yoppy Pieter tried to document one of the most iconic Minangkabau culture, merantau. In a superficial sense the act of merantau means travel. The act is done by the male side of the Minangkabau society so they would be able to get experiences, knowledge, jobs and finally returning back to their village to get married and settle down.  

Merantau or migration is not foreign concept for Indonesians, there are even government program for that (transmigrasi) that put people from densely populated area to a less populated area. The program is usually take people from Java island to Borneo, Papua or Sumatra, where the government will give a piece of land and support them. While transmigrasi has its own problem, merantau also had one. What happened after a few generations, the males of Sumpu are no longer returning to their village, creating a population gap and problems such as the lack of productive younger population that can maintain the villages.                       

When I was first asked by Yoppy to edited this project, I jump right in without any hesitation in because he has been at that time have created various projects such as "Afterbirth" (at that time it was known as "Kelana") and "Half Breath Battle" but he never have a book project at the ready. The process began with two questions: “What do you want to convey?” and “How do you want to convey it?”. We have discussed the former, let’s talk about the latter.

Looking at the materials presented and available to us, there were two approaches that we can take when we sequence the book, the first is to approach it as a documentary product, sequencing the pictures by chronological order. The second approach, the one that we took, was by creating another layer of stories or narrative, where in this approach we have the following; a boy as the main protagonist, his family who are left behind, the crumbling villages and the villains.

The story started when the boy left the village, just as any other boy doing the merantau ritual. Time passed and the village, which are depleted of men (and women) were in constant danger from unseen forces. The boy finally returned to the village as a man, where he helped in restoring his crumbling village and bring peace. On the published version, this narrative is divided into three chapters; the first is where the boy left the village, the second is when the unseen danger lurks and the third is where the boy return. The final chapter also invited the inhabitant of Sumpu to return to the village where they have been born and raised, whether they have returned or not I have to yet ask Yoppy about this. 

Coming back to the topic of intangible culture, with this book Yoppy's not only presenting his ability as a photographer but also as a storyteller, where he has been able demonstrated to us flawlessly the method to document the elusive aspect Minangkabau culture. I am not entirely sure whether it would work with other cultures in Indonesia however by going to the superficial, knowing your approach and opening up to more creative ways, others too can create a body of work on Indonesian culture that’s beyond the cliché.

Lowlight Bazaar Vol. 8

Added on by Ridzki Noviansyah.

The latest Lowlight Bazaar Vol. 8 was held once again in Bara Futsal, Blok M. More variable tenants but most importantly the event has two exhibitions (one of them sell wet prints!) which highlight the importance of tangibility in photography. There's also our good friend from Unobtainium selling the ever amazing collection of photobooks.

Bara Futsal may not be the best place to conduct such events especially when it looked like kind of rundown but nonetheless the event still looking pretty attractive and strong even though it's the 8th edition. 

Will be looking forward for the 9th edition!

Quo Vadis? What's Next After a Workshop?

Added on by Ridzki Noviansyah.

Few weeks ago I had the chance to attend the slideshow presentation from the participant of Suara Kota Tua photography workshop, mentored by Ben Laksana and Yoppy Pieter whom collaborated with Erasmus Huis for the slideshow presentation. As a bit of a background the workshop itself was done on 4-6 June 2015 and there are 12 participants in which all of them is below 25 years old. There are no published reason why this age group are selected however I'd like to believe that this is a initiative of the mentor to groom young talents. 

 
 

Now, photography workshop has been around in Indonesia for quite a while, it has been disguised in many names during many photography events, however it's almost difficult to find one that concentrated more than just technical aspects. Suara Kota Tua promises a refreshing change in that and also providing younger photographers an access to education that mostly reserved for photojournalists. 

The presentations on 6 June however, only deliver fractions of the promises. 

I think most people would agree that three days workshop is quite a tight schedule, however the students managed to cram within that schedule; the theory of storytelling, shooting and editing session, unfortunately they forgot to cram one important thing, how to deliver the presentation. Speaking about the output of the workshop could generally be divided into two groups: one is the one who tackles on personal issues, projecting their ideas on the setting of Kota Tua and making the project a very subjective matter. The second is trying portray Kota Tua and its inhabitant taking a more documentary approach. However, based on the presentation I have the impression that both groups of students consider themselves as agents of change by doing photography this presumably because the perceived role of photojournalism in the Indonesian society. 

The presentation went in a very hurried manner, as I said earlier there are lack of presentation preparation from the students, this leads to gaps and therefore questions from the audience. Unfortunately that Q& A session too was concluded quickly, leaving no room for ample discussions as the participant were leaving soon after the event ended. 

I, however manage to discuss the workshop with the mentors and have a talk about the process during workshop. It become apparent that the students comes with pre-determined subjective view, however with no agenda to the workshop. This proof to be unproductive because the circumstances didn't allow collaborations with the mentors and between the students in order to convey their ideas effectively. For me that kind of situation would mean that you lose the best chance to improve yourself for both the students and the mentors, you might not agree with what other thinks now but it never hurts to listen and collaborate for once.

That brings us to the question that I asked that night. What's next?

What's next for the participants and what's next for the workshop? I do believe that Suara Kota Tua serves as an important beginning for both and I really want to see improvement of the participant as well as the workshop model, however I didn't get the chance to get all the answers during and after the session. For that, I can only wish that they won't stumble, fall and contributing to-what Martin Parr said-in ongoing mediocrity of photography, as we had enough people doing that.

Lili and Handoko Maternity Shoot

Added on by Ridzki Noviansyah.

This was done in August 2014, I have been shooting the couple since their baby shower and we're pretty close friends (Lili is an ex-colleague at work). The shoot itself started rather late and we have like 5 costumes to go through, which means there're really little room for error, to add there were no survey of the location as well so we were working as we go. Luckily we can pull it off altogether. 

Lili Handoko Maternity Shoot_lowres11.JPG

Re: Award Winning Images from Indonesia

Added on by Ridzki.

Dear International Photography Competition Juries. It has been a great pleasure for me to see that the images from Indonesia had won an award (again), the latest being the LensCulture Exposure Awards 2013 for the single image category, in which ironically the image was taken by non Indonesian (again).

However it is in my great sadness I should say that I get bored easily by the winning images, not because I live near the action (mind you I am living in one of the 17,000 island here, the action is happening in another island most of the time) but because I feel that the judges often "pick" the same images, from time to time, cough-Pacu Jawi-cough. Of course there is absolutely nothing wrong about picking the images, after all they are indeed beautiful, "showing movement and energy" and best of all promoting Indonesia. But then why do I feel bored? perhaps because more and more photographers are taking the same picture, creating the same similar template and then get picked by the jury again and again, creating a cycle that taught the photographers from the region, if they wanted take picture for the sake of winning a competition or getting as many like as you can from their facebook friends then they should come to Indonesia where the exoticism will hypnotize the international panel of juries.

 Andi Sucirta Water Symphony

Andi Sucirta Water Symphony

Let's go back to the winning image from Chee Keong Lim, I am sure that this image has not won any LensCulture Exposure award at any time, however, I am pretty sure that the winning images or similar ones have been taken countless times. This one by Andi Sucirta was taken on 2005, long before Mr. Lim had taken his, based on Mr. Sucitra Facebook post, he stated that he was the one that come up with the concept of this photograph (titled Water Symphony), the image was subsequently winning the SalonPhoto Competition in Batam, Indonesia and few other ones overseas. The image of course like what happened with the Pacu Jawi, drive people from overseas to come to Bali to photograph the scene in Unda River, Klungkung, to the extend that if we search the term on google, most of the image associated with the place are those of Balinese kids playing with water and/or splashing around with bucket. The scene was so infamous that according to Mr. Sucitra, led the kids know that if a photographer wants to make such images, then they shouldn't be doing it for free.

http://www.andisucirta.com/photo_gallery.php?id=108
http://www.andisucirta.com/photo_gallery.php?id=108
Google Image Search Results for Unda River Klungkung
Google Image Search Results for Unda River Klungkung

Then what is the point about all these that I wrote? I suppose it was a realization that Indonesia; being the country with the most number of islands, ethnic groups, cultures and traditions in which are transforming slowly by the influx of foreign cultures from the West, the East and the Middle East, a thriving scene of civilization, the biggest economy in South East Asia (was) or basically this place of where the documentary photography tradition could take place and thrive (and even a more contemporary approach) are going to be known for the place where you can take a picture of Pacu Jawi or the kids at Unda River and other countlessly similar exotic images. That realization lead to another one, that most photographers here will become not so keen in pursuing documentary projects or looking forward to make one, because aside from the lack of knowledge, they realize that there is no real rewards in pursuing one, but will wonder in amazement when they saw a foreigner make a story based in Indonesia. So it goes, a classic story that is being repeated from time to time, Indonesia, the land where all the resources are there but the people are not able to savor it, this time it is not about natural resources though.

Of course all of this could be changed, the Indonesian photography scene with their for their penchant for exoticism, are the home of few talented photographers that are experienced and capable of creating a solid body of works. Often however, they are not given the chances, also there are gaps of knowledge or understanding of how photography could be used. These photographers needs to be informed and taught and the easiest way to teach them is not through series of articulated articles or series of workshop (language too, a barrier here), but by promoting more profound pictures from Indonesia which are judged by the merit, not only based on their exoticism or their quirkiness and this can be done by you the juries of many international photography competition.

With that I end my long rants, I do hope you understand my concerns and hopefully my peers would be as well.

Regards

Ridzki.

A Brief Recapitulation.

Added on by Ridzki.

With regards of the column series that I have written over the course of six months for Whiteboard Journal, I wanted to give a brief recapitulation pertaining what I have written and why I have written it. I was approached by Dinda Ibrahim of Whiteboard Journal one day and she asked me to write a series of columns on Photography, me and her was already part of a writing class tutored by Ayu Utami, each session of the class always feature a lengthy discussion on photography, arts, culture and living with none other Erik Prasetya and Dinda thought that the whole discussion could be summarized into the column series.

Thus the whole structures of column were devised, instead of tackling a new concepts or rather a pretty complicated ones I decided to give my perspective (a modern one, if I may say) on the photography world in general and in Indonesia at some point. My argument is that the photography world has been consisted of these following elements: the camera, the photographer, the photograph, the editor, the gallery and the photobook,  and will continue to do so.

The biggest criticism of the columns is that the writings were not comprehensive and didn't touch the deeper layer that some people (photographers) wanted to see but it was deliberate,  mainly because of the 700 words limitation and I don't feel that the audience and the critics didn't have a similar understanding.

That aside I am happy that the writings have created a brief debate and people do actually take the time and read it, I hope it could get compiled some day along with other WBJ columns.

For the column you can visit them here: 

The Camera

The Photographers

The Photograph

The Editor

The Gallery

The Photobook

Catatan Akhir Tahun: Tentang Fotografi Indonesia.

Added on by Ridzki.

2013 adalah tahun yang sangat amat mengasyikkan untuk fotografi, karena seakan-akan semua yang selama ini berjalan di tempat saja tiba-tiba bangkit dan bergerak secara bersama-sama. Hal ini nampaknya juga ditentukan oleh kekuatan media sosial yang berperan untuk menjadi corong kegiatan-kegiatan hal-hal yang mengasyikkan ini tadi. Tahun ini dipenuhi dengan banyak sekali peluncuran buku baik secara independen maupun dengan metode-metode yang konservatif, walaupun dari segi kuantitas buku yang diterbitkan belum sebanyak di Eropa atau Amerika, namun untuk ukuran Asia Tenggara kita mencatat produktivitas yang cukup baik. Catatan utama tentu saja diberikan untuk peluncuran buku Encounters karya Rony Zakaria, berdasarkan percakapan di artist talk didapatkan sebuah konsensus bahwa buku ini adalah titik tolak pembuktian bagi para fotografer generasi muda dan membuat semacam standar pencapaian baru, baik dari segi teknis pembuatan, penerbitan dan penjualannya buku tetapi terlebih lagi kontennya yang selama buku foto di Indonesia selalu didominasi oleh topik-topik jurnalisme dan coffeetable book. Selain buku Rony, juga ada karya fotografer muda lainnya yaitu Aji Susanto Anom yang meluncurkan buku yang hampir serupa yaitu tentang dokumentasi kota Solo yang berjudul Nothing Personal. Dari rekan-rekan fotojurnalis kita, Safir Makki pun mengeluarkan sebuah buku tentang perjalanan yang dilakukannya di Iran bersama dengan Tjandra M. Amin yang juga mengeluarkan The Colour of Sports, tak lupa pula yang baru saja mengeluarkan pre-order kemarin yaitu Intip karya Roy Rubianto. Sebelum saya lupa, publikasi alternatif The Future of The Past sebuah zine photography analog juga menjadi sebuah pengingat bahwa zine tidak lagi sebuah karya yang diproduksi secara massal dan murah, dengan kerjasama yang baik antar tim dan kedekatan pengguna fotografi analog di Indonesia ini menjadi sebuah publikasi dengan desain dan kualitas terindah di tahun ini.

Selanjutnya dari segi grup atau kolektif, akhirnya Indonesia memiliki sebuah grup yang kira-kira dapat menggambarkan apakah Street Photography rasa Indonesia, Sidewalkers.Asia yang muncul di tahun ini menyatakannya dengan hasil-hasil dari kurasi yang mereka lakukan dan artikel-artikel yang mereka keluarkan. Saya pun berharap banyak dari mereka untuk tahun 2014, mudah-mudahan makin ada gebrakan-gebrakan yang muncul dari pihak SWA seperti misalnya menumbuhkan minat umum terhadap essay photo dengan pendekatan street photography atau pameran kolektif. Tak lupa pula menjamurnya grup-grup street photography yang menggunakan kamera ponsel dan menghasilkan foto-foto yang bisa dianggap sangat baik, diharapkan kedepannya pencapaian visual mereka tak lagi hanya berdasarkan dari fotografer-fotografer luar negeri tetapi juga berani mengeskplorasi kekaayaan visual yang muncul dari diri sendiri.

Anugrah Fotografi Indonesia dan Vision International Image Festival, menjadi catatat tersendiri untuk saya karena saya menyayangkan kurangnya publisitas untuk event yang sangat penting seperti ini. Saya merasa para khalayak umum sepatutnya diberi tahu dan diberi keterangan yang seluas-luasnya agar dapat menggalang dukungan untuk acara ini kedepannya, dan saya berharap pun setelah kita berganti rezim tahun depan masih ada dorongan dari pemerintah untuk membantu mengembangkan dunia fotografi kita. Sangat disayangkan apabila AFI hanya muncul sebagai sebuah acara beberapa jam, memberikan hadiah kepada beberapa nama besar dan tidak ada tindak lanjut dan partisipasi masyarakat, hal yang sama pun dirasakan pada VIIF, baik dari jadwal pameran yang tidak tersedia, waktu yang pendek untuk dapat memasukkan portofolio untuk workshop bersama Francesco Zizola (!) dan pergi ke Bali untuk workshopnya dan hal-hal lain yang seolah-olah membuat kedua event ini adalah event yang sangat ekslusif dan tidak terjangkau oleh khalayak ramai.

Terakhir dari segi pameran, saya sangat bersyukur atas adanya mas Yudhi Soerjoatmodjo yang berhasil merangkumkan arsip-arsip dari Indonesian Press Photo Service dan membuatnya dalam sebuah format pameran dan buku yang sangat bagus sekali. Walaupun buku-buku tentang IPPHOS sudah pernah diterbitkan sebelumnya namun saya merasa ini cukup penting untuk generasi yang lebih muda, karena foto-foto yang ditampilkan dapat menyatu dengan foto-foto sejarah yang selama ini sudah pernah kita lihat sebelumnya. Selanjutnya adalah pameran Dinda Jou Ismail di Galeri Antara, yang berhasil menaikkan derajat fotografi ponsel agar menjadi setara dengan karya-karya yang pernah dipamerkan di Antara sebelumnya. Tak lupa pula dari rekan di Yogyakarta, yang berhasil mengajarkan kepada masyarakat Jakarta bahwa sebuah pameran foto tak perlu lagi mengambil sebuah tema-tema besar, fotografi vernakular masih sebuah hal yang bisa dikemas secara menarik apabila bisa dikerjakan dengan sungguh-sungguh, hal ini dibuktikan pula dengan pameran Dwi Putra yang berjudul Familiar Faces.

Saya kira ini saja yang dapat saya ingat selama tahun 2013 yang bisa menjadi catatan, berdasarkan bincang-bincang dengan beberapa rekan saya merasa tahun 2014 makin banyak lagi hal-hal yang mengasyikkan yang akan terjadi, saya cuma berharap di 2014 makin banyak orang yang mampu memiliki hubungan yang cerdas dengan karya-karyanya, karena hubungan yang cerdas tadi adalah fondasi utama untuk mengevaluasi kelemahan dan kekuatan kita. Saya juga berharap saya dapat melihat lebih banyak karya-karya lain yang muncul di luar kota-kota besar karena itu sistem support yang baik akan menjadi pekerjaan rumah bagi kita semua, dan seperti yang sudah saya utarakan di awal; kekuatan sosial media akan menjadi kunci untuk pencapaian itu.

Pernyataan

Added on by Ridzki.

Saya rasa ada yang terlewat di fotografi Indonesia baru-baru ini, bukan saya bukan bicara tentang AFI dan para pemenangnya. Walaupun saya harus berkata selamat atas terjadinya AFI dan para pemenangnya, mudah-mudahan di tahun depan kita bisa melihat pemenang-pemenang lain dari luar Jakarta dan bukan nama-nama yang sama lagi yang menjadi nominasi. Saya bicara tentang pameran Dinda Jou Ismail yang berjudul mail-a love letter di Galeri Foto Jurnalistik Antara, pameran dan buku yang seluruh fotonya diambil dari hasil jepretan Instagram si fotografer. Ketika Aik Beng Chia mobile photographer dari Singapura mengeluarkan bukunya Tonight The Streets Are Ours yang diterbitkan oleh Invisible Ph t grapher Asia, saya berkata bahwa ini adalah sebuah statement penting yang dikeluarkan oleh IPA, seolah-olah mereka berkata bahwa kamera itu tidak penting yang penting adalah konten dan isi dari sebuah buku tersebut.

Dalam essay saya yang dimuat di Whiteboard Journal saya menyatakan bahwa kamera tak lagi berbentuk seperti halnya kamera klasik, sebuah ponsel adalah kamera bahkan kacamata pun adalah sebuah kamera pada jaman sekarang. Namun dalam forum yang membahas project seorang kawan yang menggunakan kamera ponsel juga, ada pertanyaan yang muncul dari para fotografer senior "jika kamu punya kamera yang bagus kenapa kamu motret menggunakan ponsel? apa alasannya?" Tentu jika kita menjawab hal ini adalah tantangan buat saya atau bagi saya ini juga kamera, itu kurang dapat memuaskan level intelektualitas dan terkesan kita tidak mengetahui secara dalam tentang diri kita sendiri, namun kita tidak sedang membahas itu sekarang. Yang saya garis bawahi adalah bagaimana para fotografer senior ini menyikapi penggunaan kamera ponsel.

Saya yakin Dinda memiliki kamera yang disebut bagus itu dan saya yakin dia juga mampu mengambil gambar-gambar yang sama dengan yang dia ambil dengan kamera ponselnya. Maka dari itu saya merasakan apa yang dilakukan Galeri Antara jauh melampaui apa yang dilakukan IPA, karena adanya sejarah institusi yang lebih panjang dan orang-orang yang terlibat di dalamnya seperti Oscar Motuloh (yang kebetulan menjadi editor buku tersebut) adalah orang-orang yang satu generasi dengan para fotografer senior tersebut. Terlepas dari fakta bahwa dulu instalasi pameran Yudhi Soerjoatmodjo jauh lebih kontemporer, namun itu tetaplah karya fotografi yang tidak diperdebatkan lagi, kali ini Antara telah melampaui itu dan membuat statement yang sangat keras, bahwa karya fotografi dengan ponsel adalah karya fotografi yang mampu bersanding dengan karya yang pernah ditaruh di dinding-dinding Galeri Antara.

Maka dengan itu perdebatan telah selesai dan mari kita melangkah kembali.

Merespon Tulisan Edy Purnomo "Sudahkan Fotografi Indonesia Merespon Perubahan"

Added on by Ridzki.

Pertama kali saya membaca tulisan Edy Purnomo yang dimuat di Seribu Kata, saya merasakan bahwa mas Edy ingin menunjukkan kepada khalayak umum bahwa ada karya fotografi Indonesia yang tidak melulu mengenai festival budaya, berbau etnik atau eksotis tetapi lebih ke arah yang intuitif (saya tidak memakai kontemporer karena ini sangat luas dan lebih bisa disalah-artikan), personal atau bahkan menjurus kepada fotografi seni rupa. Semuanya ini sudah dan sedang dilakukan oleh mereka relatif muda, dengan kata lain pelaku fotografi di Indonesia sudah (mulai) merespon perubahan walaupun dengan kuantitas yang sangat sedikit. Akan tetapi ketika kita kembali kepada fotografi dan aspek-aspeknya, kita tidak hanya bisa berbicara mengenai para pelaku dan hasil karya fotografi itu sendiri. Ada hal-hal yang lebih luas dari hanya sekedar karya fotografi itu sendiri, seperti misalnya; kritik, essay, diskusi, sejarah dan buah pemikiran dari fotografi. Hal-hal yang masih jarang sekali kita temukan dalam dunia fotografi di Indonesia, namun keberadaan dokumentasi itu akan mampu untuk mengangkat kemampuan intelektualitas kolektif untuk generasi mendatang.

Maka dari itu merespon tulisan mas Edy kembali, apakah fotografi Indonesia sudah merespon perubahan, saya harus katakan belum, tanpa mengecilkan betapa besarnya peran para pelaku fotografi yang sudah keluar dari jebakan klise eksotisme dan mencapai cara baru untuk menciptakan sebuah karya dan mereka yang sudah bergerak untuk menyokong fotografi itu sendiri. Maka dari itu saya mengajak, kepada semua, mari kita giatkan kembali diskusi, menuliskan essay, mendokumentasikan wawancara, membicarakan ide dan persoalan lalu bertindak menyelesaikan persoalan itu, tidak hanya dengan foto dibalas dengan foto, tapi foto dibalas dengan tulisan dan tulisan dengan tindakan.

Beasiswa Workshop Penulisan Kritik Seni Rupa dan Budaya Visual ruangrupa 2013

Added on by Ridzki.

dibuka-portrait

Fotografi selain dianggap sebagai sebuah karya jurnalistik dan dokumentasi juga dianggap sebagai sebuah karya seni oleh para pelakunya. Melihat kembali perayaan Waisak di Borobudur kemarin telah sekali lagi menyadarkan saya bahwa medium ini, tidak atau sangat kurang sekali memiliki para kritikus yang kompeten di bidangnya, padahal hampir seluruh lapisan masyarakat adalah fotografer pada zaman sekarang ini.

Kebanyakan para fotografer yang terkadang -sama seperti mediumnya- terlalu demokratis dapat dengan mudahnya menilai dan mengkritisi karya-karya mereka dan karya-karya yang lain dengan cara-cara yang superfisial seperti menyatakan bahwa yang tajam itu indah dan yang kabur itu buruk. Maka dari itu saya memohon kepada segenap teman-teman saya yang memang sudah saya ketahui memiliki kemampuan dan pengetahuan akan fotografi untuk mencoba mendaftarkan diri untuk mencoba mendapatkan tempat dalam workshop yang diadakan oleh ruangrupa ini.

Bagi mereka yang tertarik mendaftarkan diri dan merasa ingin menjadi kritikus foto saya coba tawarkan sebuah beasiswa untuk satu orang, jika anda terpilih maka biaya workshop akan saya bayarkan lunas tetapi dengan syarat selama 1 tahun ke depan setelah workshop ini anda harus membuat sebuah tulisan-tulisan yang memunculkan ide-ide baru atau tulisan-tulisan kuratorial untuk pameran atau bergerak memajukan fotografi Indonesia, semua ini diharapkan dilakukan dalam ranah publik dan dapat dipertanggungjawabkan.

Kepada yang tertarik diharapkan menghubungi saya di alamat email a.ridzki[at]gmail[dot]com, kepada yang lain saya harapkan dapat menyebarkan perihal ini ke khalayak umum atau orang-orang yang menurut anda mampu dan mau belajar menjadi kritikus foto.

 

Terima Kasih.

-----------------------------------------------------------------------------------------------------

Ruangrupa kembali membuka pendaftaran untuk mengikuti Workshop Penulisan Kritik Seni Rupa dan Budaya Visual, setelah sebelumnya diadakan sejak 2008. Workshop ini ditujukan kepada penulis muda yang memiliki minat terhadap penulisan kritik seni rupa dan budaya visual secara umum. Peserta workshop akan diseleksi berdasarkan tulisan-tulisan awal yang dikirimkan serta proposal proyek penulisan kritik seni rupa dan budaya visual yang akan dilaksanakan setelah selesai mengikuti workshop ini, beserta syarat pendaftaran lainnya. Hasil akhir dari workshop ini berupa pengelolaan situs jarakpandang.net oleh para peserta workshop, sebagai situs berisikan tulisan-tulisan kritik seni rupa dan budaya visual. Para peserta akan dilibatkan dalam proyek penulisan kritik seni rupa dan budaya visual di jarakpandang.net secara berkala. Selain itu, tulisan-tulisan tersebut akan dimasukan ke dalam proyek buku jarakpandang.net yang berisi tulisan-tulisan kritik seni rupa dan budaya visual dari para penulis muda, yang dihasilkan dari workshop penulisan ini sejak pertama kali diselenggarakan.

Workshop ini akan dilaksanakan di ruangrupa, Jakarta, 17-28 Juni 2013.

Persyaratan pendaftaran:

  1. Usia peserta antara 19 – 30 tahun
  2. Mengisi formulir pendaftaran online di bawah ini.
  3. Mengirimkan 1 buah proyek penulisan dalam bentuk proposal (lihat formulir pendaftaran)
  4. Pendaftar yang terpilih membayar biaya workshop sebesar Rp. 500.000,-
  5. Biaya perjalanan peserta (travel/kereta/pesawat) dari luar Jakarta, ditanggung oleh masing-masing peserta.

Catatan:

  • Pengisian formulir pendaftaran online selambat-lambatnya pada tanggal 9 Juni 2013.
  • Peserta terpilih akan diumumkan pada tanggal 13 Juni 2013, melalui website ruangrupa dan jarakpandang.

Untuk informasi lebih lanjut silakan hubungi ruangrupa di:

Telepon : (021) 830 4220 Situs : ruangrupa.org | jarakpandang.net E-mail: jarak_pandang@yahoo.com Facebook : Jarak Pandang Twitter : @jarakpandang

Tautan terkait: http://jarakpandang.net/blog/dibuka-pendaftaran-workshop-penulisan-kritik-seni-rupa-dan-budaya-visual-ruangrupa-2013/

Es Krim dan Rasa Nyaman di Rumah

Added on by Ridzki.

Marilah kita bicara sebentar tentang fotografi yang dilakukan dengan porsi intuisi lebih banyak daripada konsep. Walaupun sebaiknya itu dibagi menjadi 2 sama besar (berdasarkan paparan Wid tadi malam dari hasil workshop photography booknya) tapi ada baiknya kita menelaah dari porsi intuisi untuk saat ini. Porsi intuisi ini mudah, kamu lihat apa yang kamu suka maka abadikan saja, kalau meminjam istilah lomografi "Don't Think Just Shoot". Kita sedikit banyak menyimpan foto-foto seperti ini, foto yang diibaratkan sebagai sampah, tah itu tampang teman yang terlihat bodoh, makanan enak yang sebentar lagi akan disantap atau pemandangan ketika liburan. Dari hasil fotografi yang tercerai-berai dan nampak tidak ada hubungan ini cepat atau lambat akan muncul pertanyaan, mau dibawa kemana sampah-sampah ini? berpindah-pindah dari 1 hard-drive ke hard-drive lain sajakah?

Akan tetapi sampah bagi satu bukanlah sampah bagi yang lain, Minggu lepas saya berkesempatan datang ke ENCOUNTERS, pameran oleh Rony Zakaria dan Feels Like Home pameran kolektif dimana Wid juga berperan. Di pameran saya belajar arti foto-foto yang selama ini mungkin kita lupakan, foto-foto intuitif kita, foto dimana Rony merasa seperti memakan es krim yang berbeda rasa setiap harinya dan dimana Wid bisa merasa nyaman seperti di rumahnya.

Bagi yang kurang mendapat background, ENCOUNTERS adalah hasil perjalanan Rony selama 6 tahun menjadi fotografer, perjalanan dia merasakan tinggal di kota, bersama dengan manusia atau makhluk yang ditemuinya dan foto-foto yang diambil tanpa rencana. Perjalanan yang juga ditempa dengan tema dari film favoritnya "Close Encounters of The Third Kind" dan bagaimana kita, seperti kata Oscar Motuloh, melihat benda-benda asing di sekitar kita, bagaikan menjadi alien yang tiba di bumi itu sendiri. Emosi yang terasa dari pameran ini selain keasingan adalah limpahan emosi dari Rony dan, meminjam kata kata dari Oscar Motuloh kembali,  dari orang setenang Rony, ENCOUNTERS adalah sebuah teriakan, mungkin itu juga kenapa mereka berdua memilih sang kera menjadi cover depan buku ENCOUNTERS.

Terbang ke Jogjakarta, saya menjumpai pameran Wid, yang bertema Feels Like Home, dimana Wid menginterpretasikan temanya dengan memamerkan arsip-arsip fotonya yang berjumlah 200 buah di salah satu ruangan kecil di KPY. Wid merasa rumah dalam artian fotografi adalah perasaan nyaman dalam fotografi yang tidak dipenuhi dengan elitisme, kolektif, paham bahwa saya lebih benar daripada anda dan pencapaian-pencapaian dalam bentuk award dan workshop. Saya lalu mengerti betul kerinduan Wid akan fotografi karena fotografi itu sendiri dan bagaimana pusingnya berada di sebuah pusaran yang merumitkan segala sesuatu yang harusnya mudah. Yang harusnya intuitif.

Dapat kita lihat disini, es krim-es krim Rony dan kenyamanan rumah Wid adalah sama! Mereka berakar dari fotografi tanpa konsep, fotografi yang dimulai karena fotografi itu sendiri. Mereka menggambarkan perjalanan atau titik awal sang empunya foto, menggambarkan emosi dan perasaan mereka. Adalah hal ini sama juga dengan bertemu dengan teman yang sudah lama tak berjumpa, kita melihat hal-hal baru tentang mereka dan mereka menjadi pengingat tentang apa yang sudah pernah kita lalui.

Dan itulah fotografi dan hidup, kita terkadang terlalu terfokus pada konsep dan tujuan lalu melupakan sebuah proses atau alasan kenapa kita memulainya. Kita terkadang mempersulit apa yang kita sudah miliki dan menghilangkan kesenangan kita akan es krim dan rasa nyaman di rumah.

 

Salam

 

Ridzki, Jogjakarta 18 Maret 2013.

Di awal penulis menyebutkan fotografi sebagai sampah, tanpa mengurangi segala hormat penulis tidak bermaksud membandingkan karya keduanya sebagai sampah. Hal itu hanyalah ilustrasi belaka.

Why am I Excited About Bungkus and Why You Should be Too

Added on by Ridzki.

Few months back I attended Bungkus Vol. 2 presentation which was held in Bandung, for those who isn't familiar, Bungkus is a bi-monthly Photography zine from Bandung and the theme for volume 2 is aptly titled "Journey". I had a few talks before and after the talk with the founder of Bungkus; Sandi Jaya Saputra (Useng), Gyaista Sampurno, Sari Asih and Arif Setiawan as well as the participant of the second volume of Bungkus to get the idea of what are the things that they wanted to achieve, why Bandung specifically and how's the future of Bungkus looks like.

From the conversation I kinda get the idea that Bungkus is a little bit different from the other platform existed in this country, even though they are the latest who announce themselves. They already had their mission, their roadmap to go along and what are they trying to make Bungkus of in the future. This is made possible because Bungkus is managed by people who are experienced and educated in the fine art and/or photography, they also had the experience of working in a collective thus ensuring its sustainability (Thank you Rony Zakaria for this input). I have to make note though, a collective might not be a correct term however to call them just a zine is an understatement as well.

So why Bungkus and why Bandung?

Like any other collective it is started out by meeting of some close friends and colleagues, shared some ideas over drinks and suddenly it was born. What makes them different is; instead of focusing the collective around themselves, they wanted to focus on the photographers from Bandung, who made their project in Bandung or outside Bandung OR Non-Bandung Photographers who made the project inside Bandung. The reason is simply that they wanted to put Bandung Photography on the map (Bandung is already well known for their creative athmosphere and the birth of several art movement)

Bungkus started distributing the theme into the internet via facebook (first is called Home, second is Journey and the third theme is History), the editor would set the deadline and then ask the participant to submit at least 20 pictures depicting their interpretation of the theme. Over the submission period the editors would release several ideas of how other photographers interpret the theme. Once the submission is collected then they would start to select the works and try with the photographer to edit the work down to 20 pictures. Once it's all final, then a slideshow would be set up and generally it's a presentation night with a lot of Q and A Session.

Now here's my thoughts on the current model of of the Bungkus.

The first thing that I noticed when I watched the slideshow is that there's a clear gap between the people who understand editing (usually the editor of Bungkus) and the people who doesn't, and in between there are people who use the most basic sequencing, that is to sequence it chronologically. When I confirmed this, the editors did said that the presenter is the one who fully responsible in sequencing the photograph, with little or no help at all from them. I personally thought if this were to continue, the presentation at would mostly be consisted of half baked slideshows that needs more touch. I also noticed that some of the photographers are sometimes not sure why they selected certain pictures to be incorporated in their slideshows.

But I suppose it's about to change, for "History" the editor had decided to prolong the deadline of the submission as well as conducting a seminar session with Primanto Nugroho to dissect more of a perspective pertaining "History", this albeit only a few hours discussions and presentation would still throw in ideas to the photographers on how to approach the theme.

It was already exciting to see how people interpreting the theme and putting their own personal touch which came up as a photography presentations on the second volume and it will be getting more exciting in the future with the addition of the seminar and the prolongations of the deadline. Looking at it I personally believe that there are more to come from Bungkus, especially if they decide to educate photographers on how to create an essays or by the least to sequence photograph for presentations.

With that I conclude by inviting those who are interested to come to Bandung on 2nd March 2013, to watch how the photographers interpreted "History", I bet that there would be some interesting work to be watch.

Bungkus Volume Three: History Presentation will be held in 2 March 2013, starting at 18.30 at Kamones Workshop & Gallery, Jl Cigadung Raya Barat 28A, Bandung

For more information please kindly visit their Facebook Page here