Photographer

Filtering by Category: Thoughts

Menarik

Added on by Ridzki Noviansyah.
“Menurut saya karya fotografi ini menarik sekali”

Kata-kata diatas adalah salah satu komentar yang terlalu sering saya dengar tentang sebuah karya fotografi, entah itu suatu dalam sebuah diskusi, seminar atau hanya obrolan-obrolan iseng. Syukur kalau setelah kata itu diucapkan si pemberi komentar dapat menjelaskan lebih lanjut mengenai kenapa karya foto tersebut menjadi menarik. Sialnya kebanyakan komentator berhenti sampai di sana saja. “Menarik” memang mungkin bukan kata yang salah, namun “menarik” juga tidak menjelaskan lebih banyak. Kata-kata serupa “menarik” yang sering kita jumpai di percakapan sehari-hari adalah “baik” dan “gitu”.

Sebagai contoh:

“Bagaimana gebetanmu yang itu?”
“yah orangnya baik kok”

atau

“Gitu maksud gw, paham kan?”
“he em”.

Kata seperti “menarik’ atau “baik” atau “gitu” memiliki suatu kelemahan karena belum tentu yang dimaksud oleh si pembicara sama dengan makna yang ditangkap oleh si pendengar.

Kembali ke pokok bahasan, ada beberapa hal yang menjadikan “menarik” sebagai kata pilihan untuk menjelaskan sebuah karya. Yang pertama adalah kurangnya kemampuan seorang fotografer untuk keluar dari dunia fotografi, padahal kemajuan teknologi memberikan akses bagi para fotografer untuk mendapatkan berbagai inspirasi dan informasi. Seringkali yang terjadi adalah para fotografer mencari inspirasi dalam bentuk sebuah foto pula. Karya-karya milik Cartier-Bresson, Trent Parke atau Alex Webb misalnya menjadi salah satu acuan favorit untuk membuat karya street photography. Padahal seorang fotografer seharusnya mampu dan mau untuk mendapatkan inspirasi dari berbagai karya yang lain seperti seni sastra, seni lukis, tarian atau novel-novel fiksi. Sesuatu yang berada di luar internet. Kurangnya inspirasi dalam bentuk lain ini, menurut saya membuat seseorang memiliki perbendaharaan kata yang sedikit.

Yang kedua, kata menarik menjadi pilihan utama karena kata itulah yang dipopulerkan menjadi standar umum kritik fotografi amatir. Bagi beberapa orang yang menyimak berbagai karya fotografi yang berseliweran di internet, kata ini akan sangat mudah dibaca berulang-ulang di kolom komentar. Sebagai sebuah kata “menarik” adalah kata yang aman, ia tidak baik dan tidak pula buruk dan sebagai kata yang aman ia mengurangi resiko dibully jika anda salah kritik.

Pada tulisan ini saya tidak hanya akan meminta anda membaca Murakami atau Kundera atau mendengarkan Beethoven lalu dilanjutkan The Raveonettes untuk mendapatkan inspirasi. Saya juga akan memberikan dua tawaran untuk memperluas ruang argumen, karena menurut saya kata “menarik” membuat kita malas untuk mengeluarkan argumen. Dua tawaran itu datang dalam bentuk kata yaitu kontekstual dan relevan.

Sebuah karya fotografi menjadi kontekstual jika ia mampu menjelaskan atau dijelaskan (oleh) kondisi zaman ketika si fotografer mengambil gambarnya atau pada di masa depan. Sebagai contoh, karya The Americans oleh Robert Frank adalah karya yang pada awalnya kontekstual untuk oleh publik Eropa, karena gaya fotografinya yang sangat candid sehingga menghasilkan foto yang — menurut majalah Popular Photography — meaningless blur, grain, muddy exposures, drunken horizons and general sloppiness. Gaya fotografi yang sama tidak diterima dengan baik oleh publik Amerika Serikat, karena mereka terbiasa dengan karya-karya dari Walker Evans yang sangat jelas dalam menggambarkan foto. Salah satu faktor yang mendukung publik Amerika Serikat untuk menyadari konteks The Americans adalah karena tulisan pengantar yang dibuat oleh Jack Kerouac. Dimana foto-foto milik Frank dianggap dapat mewakili karya sastra beat generation yang populer (dan kontekstual) pada saat itu.

Relevansi di lain hal, adalah ukuran untuk menilai seberapa pentingnya sebuah karya fotografi itu pada audiens yang dituju. Audiens ini adalah mereka yang mengamati fotografi; baik galeri, kurator, media, masyarakat umum atau kelompok tertentu. Sebagai sebuah karya yang lahir dari pemikiran yang subyektif, fotografi terkadang hanya menjadi relevan bagi si fotografer dan tidak bagi orang lain. Karena itu seorang fotografer yang ingin menyampaikan idenya harus awas dan sadar apakah karyanya tersebut relevan bagi audiensnya.

Sebagai contoh untuk ukuran Indonesia, dimana karya-karya yang beredar adalah karya-karya yang menonjolkan keindahan (baik model berbaju minim, maupun pemandangan alam bebas) sebuah karya yang mengeksplorasi sisi personal adalah karya yang menjadi langka. Karya seperti ini menjadi relevan karena ia memberikan sesuatu yang baru dan memberikan alternatif untuk memandang fotografi. Tentu karya-karya fotografi sebagai ekspresi personal sudah beredar luas di luar sana, namun ketika kita bicara tentang publik Indonesia karya seperti ini menjadi relevan karena sebagian besar orang awam akan hal tersebut.

Sekian saja tawaran dari saya, mudah-mudahan tawaran ini dapat membuat diskusi tentang fotografi (baik karya maupun pemikiran) berlanjut dan tidak berhenti dengan komentar menarik, kontekstual atau relevan. Saya juga harap tulisan ini dapat ditanggapi dan tidak berhenti dengan komentar “Wah menarik sekali tulisanmu Ki!”

Here Comes 2016

Added on by Ridzki Noviansyah.

2015 ended yesterday, I always felt that one year passes too quickly, however this one ended especially quick. The year ended by leaving more questions than ever, some of which that I should have figured out earlier in life I suppose.

In 2015 I changed my career, if people ask me "why?" I'd probably answer like how George Mallory answered "because it's there". The next person will say I've done a 180 degree turn, where I would retort that I am just changing from driving a car to sailing in a boat. The career change gets me busy, to the extend that people said it changed my social life and personal life, but then have I really changed or I am just too good in controlling myself previously?

In between that I managed to pull through in helping to publish two photobooks, Saujana Sumpu by Yoppy Pieter and LAB by TFoTP Editorial team. Looking forward for more opportunities like this next year. I also write for a magazine, it was fun, waiting for the payment was not. Still more writing and editing is something that I hoped to do more often

As usual life made some unexpected turns, I made new friends, almost made some enemies. God, I hate making enemies, please don't ever do that to me. If I didn't talk to any of you, perhaps the status quo is better as compared to what could happen next, or at least that's what I like to believe in.

I also tried to fix a lot of mess, some of which couldn't be fixed and some of I can fixed. At the end of it, all of the problems left me tired and restless. I end up putting my hands and feet everywhere. In 2015, a quiet Sunday would only be a mirage, something that I desire however it's impossible to have.

This, I guess has been to put me in a lot of stress, to the extend I do no longer understand of what I want and what I need and whether I am living the life I wanted or somebody else's. I often find myself with a company of strangers who become friends and friends that almost become strangers. At its worse, I could looking up at the mirror at 3 AM, catching a glimpse of my eyes where the reflection said back to me "What the hell are you doing?" At its best? well I guess it has yet to come.

Amidst all that, I could still stand at Bundaran HI last night, where the fireworks goes off one after the other. I looked at the horizons and to the eyes of Krida, Fuad and Ayu and the rest of the people there. What I see is the glimmer of hope for 2016, then I figure out I gotta have some too. At the very least to keep me move forward.

So, Here comes 2016.

Catatan Akhir Tahun: Tentang Fotografi Indonesia.

Added on by Ridzki.

2013 adalah tahun yang sangat amat mengasyikkan untuk fotografi, karena seakan-akan semua yang selama ini berjalan di tempat saja tiba-tiba bangkit dan bergerak secara bersama-sama. Hal ini nampaknya juga ditentukan oleh kekuatan media sosial yang berperan untuk menjadi corong kegiatan-kegiatan hal-hal yang mengasyikkan ini tadi. Tahun ini dipenuhi dengan banyak sekali peluncuran buku baik secara independen maupun dengan metode-metode yang konservatif, walaupun dari segi kuantitas buku yang diterbitkan belum sebanyak di Eropa atau Amerika, namun untuk ukuran Asia Tenggara kita mencatat produktivitas yang cukup baik. Catatan utama tentu saja diberikan untuk peluncuran buku Encounters karya Rony Zakaria, berdasarkan percakapan di artist talk didapatkan sebuah konsensus bahwa buku ini adalah titik tolak pembuktian bagi para fotografer generasi muda dan membuat semacam standar pencapaian baru, baik dari segi teknis pembuatan, penerbitan dan penjualannya buku tetapi terlebih lagi kontennya yang selama buku foto di Indonesia selalu didominasi oleh topik-topik jurnalisme dan coffeetable book. Selain buku Rony, juga ada karya fotografer muda lainnya yaitu Aji Susanto Anom yang meluncurkan buku yang hampir serupa yaitu tentang dokumentasi kota Solo yang berjudul Nothing Personal. Dari rekan-rekan fotojurnalis kita, Safir Makki pun mengeluarkan sebuah buku tentang perjalanan yang dilakukannya di Iran bersama dengan Tjandra M. Amin yang juga mengeluarkan The Colour of Sports, tak lupa pula yang baru saja mengeluarkan pre-order kemarin yaitu Intip karya Roy Rubianto. Sebelum saya lupa, publikasi alternatif The Future of The Past sebuah zine photography analog juga menjadi sebuah pengingat bahwa zine tidak lagi sebuah karya yang diproduksi secara massal dan murah, dengan kerjasama yang baik antar tim dan kedekatan pengguna fotografi analog di Indonesia ini menjadi sebuah publikasi dengan desain dan kualitas terindah di tahun ini.

Selanjutnya dari segi grup atau kolektif, akhirnya Indonesia memiliki sebuah grup yang kira-kira dapat menggambarkan apakah Street Photography rasa Indonesia, Sidewalkers.Asia yang muncul di tahun ini menyatakannya dengan hasil-hasil dari kurasi yang mereka lakukan dan artikel-artikel yang mereka keluarkan. Saya pun berharap banyak dari mereka untuk tahun 2014, mudah-mudahan makin ada gebrakan-gebrakan yang muncul dari pihak SWA seperti misalnya menumbuhkan minat umum terhadap essay photo dengan pendekatan street photography atau pameran kolektif. Tak lupa pula menjamurnya grup-grup street photography yang menggunakan kamera ponsel dan menghasilkan foto-foto yang bisa dianggap sangat baik, diharapkan kedepannya pencapaian visual mereka tak lagi hanya berdasarkan dari fotografer-fotografer luar negeri tetapi juga berani mengeskplorasi kekaayaan visual yang muncul dari diri sendiri.

Anugrah Fotografi Indonesia dan Vision International Image Festival, menjadi catatat tersendiri untuk saya karena saya menyayangkan kurangnya publisitas untuk event yang sangat penting seperti ini. Saya merasa para khalayak umum sepatutnya diberi tahu dan diberi keterangan yang seluas-luasnya agar dapat menggalang dukungan untuk acara ini kedepannya, dan saya berharap pun setelah kita berganti rezim tahun depan masih ada dorongan dari pemerintah untuk membantu mengembangkan dunia fotografi kita. Sangat disayangkan apabila AFI hanya muncul sebagai sebuah acara beberapa jam, memberikan hadiah kepada beberapa nama besar dan tidak ada tindak lanjut dan partisipasi masyarakat, hal yang sama pun dirasakan pada VIIF, baik dari jadwal pameran yang tidak tersedia, waktu yang pendek untuk dapat memasukkan portofolio untuk workshop bersama Francesco Zizola (!) dan pergi ke Bali untuk workshopnya dan hal-hal lain yang seolah-olah membuat kedua event ini adalah event yang sangat ekslusif dan tidak terjangkau oleh khalayak ramai.

Terakhir dari segi pameran, saya sangat bersyukur atas adanya mas Yudhi Soerjoatmodjo yang berhasil merangkumkan arsip-arsip dari Indonesian Press Photo Service dan membuatnya dalam sebuah format pameran dan buku yang sangat bagus sekali. Walaupun buku-buku tentang IPPHOS sudah pernah diterbitkan sebelumnya namun saya merasa ini cukup penting untuk generasi yang lebih muda, karena foto-foto yang ditampilkan dapat menyatu dengan foto-foto sejarah yang selama ini sudah pernah kita lihat sebelumnya. Selanjutnya adalah pameran Dinda Jou Ismail di Galeri Antara, yang berhasil menaikkan derajat fotografi ponsel agar menjadi setara dengan karya-karya yang pernah dipamerkan di Antara sebelumnya. Tak lupa pula dari rekan di Yogyakarta, yang berhasil mengajarkan kepada masyarakat Jakarta bahwa sebuah pameran foto tak perlu lagi mengambil sebuah tema-tema besar, fotografi vernakular masih sebuah hal yang bisa dikemas secara menarik apabila bisa dikerjakan dengan sungguh-sungguh, hal ini dibuktikan pula dengan pameran Dwi Putra yang berjudul Familiar Faces.

Saya kira ini saja yang dapat saya ingat selama tahun 2013 yang bisa menjadi catatan, berdasarkan bincang-bincang dengan beberapa rekan saya merasa tahun 2014 makin banyak lagi hal-hal yang mengasyikkan yang akan terjadi, saya cuma berharap di 2014 makin banyak orang yang mampu memiliki hubungan yang cerdas dengan karya-karyanya, karena hubungan yang cerdas tadi adalah fondasi utama untuk mengevaluasi kelemahan dan kekuatan kita. Saya juga berharap saya dapat melihat lebih banyak karya-karya lain yang muncul di luar kota-kota besar karena itu sistem support yang baik akan menjadi pekerjaan rumah bagi kita semua, dan seperti yang sudah saya utarakan di awal; kekuatan sosial media akan menjadi kunci untuk pencapaian itu.

Pernyataan

Added on by Ridzki.

Saya rasa ada yang terlewat di fotografi Indonesia baru-baru ini, bukan saya bukan bicara tentang AFI dan para pemenangnya. Walaupun saya harus berkata selamat atas terjadinya AFI dan para pemenangnya, mudah-mudahan di tahun depan kita bisa melihat pemenang-pemenang lain dari luar Jakarta dan bukan nama-nama yang sama lagi yang menjadi nominasi. Saya bicara tentang pameran Dinda Jou Ismail yang berjudul mail-a love letter di Galeri Foto Jurnalistik Antara, pameran dan buku yang seluruh fotonya diambil dari hasil jepretan Instagram si fotografer. Ketika Aik Beng Chia mobile photographer dari Singapura mengeluarkan bukunya Tonight The Streets Are Ours yang diterbitkan oleh Invisible Ph t grapher Asia, saya berkata bahwa ini adalah sebuah statement penting yang dikeluarkan oleh IPA, seolah-olah mereka berkata bahwa kamera itu tidak penting yang penting adalah konten dan isi dari sebuah buku tersebut.

Dalam essay saya yang dimuat di Whiteboard Journal saya menyatakan bahwa kamera tak lagi berbentuk seperti halnya kamera klasik, sebuah ponsel adalah kamera bahkan kacamata pun adalah sebuah kamera pada jaman sekarang. Namun dalam forum yang membahas project seorang kawan yang menggunakan kamera ponsel juga, ada pertanyaan yang muncul dari para fotografer senior "jika kamu punya kamera yang bagus kenapa kamu motret menggunakan ponsel? apa alasannya?" Tentu jika kita menjawab hal ini adalah tantangan buat saya atau bagi saya ini juga kamera, itu kurang dapat memuaskan level intelektualitas dan terkesan kita tidak mengetahui secara dalam tentang diri kita sendiri, namun kita tidak sedang membahas itu sekarang. Yang saya garis bawahi adalah bagaimana para fotografer senior ini menyikapi penggunaan kamera ponsel.

Saya yakin Dinda memiliki kamera yang disebut bagus itu dan saya yakin dia juga mampu mengambil gambar-gambar yang sama dengan yang dia ambil dengan kamera ponselnya. Maka dari itu saya merasakan apa yang dilakukan Galeri Antara jauh melampaui apa yang dilakukan IPA, karena adanya sejarah institusi yang lebih panjang dan orang-orang yang terlibat di dalamnya seperti Oscar Motuloh (yang kebetulan menjadi editor buku tersebut) adalah orang-orang yang satu generasi dengan para fotografer senior tersebut. Terlepas dari fakta bahwa dulu instalasi pameran Yudhi Soerjoatmodjo jauh lebih kontemporer, namun itu tetaplah karya fotografi yang tidak diperdebatkan lagi, kali ini Antara telah melampaui itu dan membuat statement yang sangat keras, bahwa karya fotografi dengan ponsel adalah karya fotografi yang mampu bersanding dengan karya yang pernah ditaruh di dinding-dinding Galeri Antara.

Maka dengan itu perdebatan telah selesai dan mari kita melangkah kembali.

Moths

Added on by Ridzki.

Once me and Dinda were having a discussion with Erik, a good friend and a mentor of ours, actually it was an interview session that we did for an online media. At some point during the discussion we talked about one of his photograph of  a bucket full of  drowned moths that died after circling around the lamp situated above the bucket. The photograph was to commemorate the death of the Indonesian activist Munir. Erik continued by saying that he had read somewhere that the one that attracts men to come to cities was not the opportunities that you could get in the place, but at the very primal level it was lights, city lights that attract humans. In a very similar way that light attracts months and how the city was a bucket full of decaying bodies.

Erik had his relationship between lights, the city, humans and moths and after a while, I had my experience as well.

While flying for a working trip to Bali, I was taking the last flight, it was guaranteed to arrive well before midnight in Denpasar. I had finished my meal (chicken or was it fish?) and getting ready to dozed off, but before I decided to see what they offer in the entertainment section. "Ah Stoker was available", so there I was watching the movie forgetting the need to sleep.

The movie was abruptly ended by the staffs because we need to land, as usual "prepare for landing" in Indonesia would mean a good 30-45 minutes of circling the air without your seat being reclined and your entertainment stopped. A time where suddenly you realized that you're all alone aboard this plane surrounded with strange faces and your only salvation is of course to turn to the most familiar face, yourself. So then you started to speak to yourself and flood your head with thoughts.

When humans created the airplanes, they were thinking of making themselves free from the tyranny of gravity. Over time, it began to look like a good idea to use it as a mass transportation method as well, but mankind is also a species who easily forgot and easily distracted, nobody wants to be confined for two, three or eight hours by just sitting, so in order to make us bear the cage they give us entertainment, they give us lights so our eyes can be transfixed on that brightly lit small screens. And there we are, a species who never once learned, we created planes to free us from the tyrant only to be bound and watched a flickering light. Like moths.

Fortunately there were the times where the lights and the screens were off and our minds come back to its rightful owner. The time where our thoughts and imaginations crawls back into our head feeding us with memories and stories, freeing us from the vessel we called body. That time happens when you had no flickering lights to distract you or when you spend 30-45 minutes waiting for your plane to land.

And that's the time that you should realized that how our life was just a series of flickering lights.

Es Krim dan Rasa Nyaman di Rumah

Added on by Ridzki.

Marilah kita bicara sebentar tentang fotografi yang dilakukan dengan porsi intuisi lebih banyak daripada konsep. Walaupun sebaiknya itu dibagi menjadi 2 sama besar (berdasarkan paparan Wid tadi malam dari hasil workshop photography booknya) tapi ada baiknya kita menelaah dari porsi intuisi untuk saat ini. Porsi intuisi ini mudah, kamu lihat apa yang kamu suka maka abadikan saja, kalau meminjam istilah lomografi "Don't Think Just Shoot". Kita sedikit banyak menyimpan foto-foto seperti ini, foto yang diibaratkan sebagai sampah, tah itu tampang teman yang terlihat bodoh, makanan enak yang sebentar lagi akan disantap atau pemandangan ketika liburan. Dari hasil fotografi yang tercerai-berai dan nampak tidak ada hubungan ini cepat atau lambat akan muncul pertanyaan, mau dibawa kemana sampah-sampah ini? berpindah-pindah dari 1 hard-drive ke hard-drive lain sajakah?

Akan tetapi sampah bagi satu bukanlah sampah bagi yang lain, Minggu lepas saya berkesempatan datang ke ENCOUNTERS, pameran oleh Rony Zakaria dan Feels Like Home pameran kolektif dimana Wid juga berperan. Di pameran saya belajar arti foto-foto yang selama ini mungkin kita lupakan, foto-foto intuitif kita, foto dimana Rony merasa seperti memakan es krim yang berbeda rasa setiap harinya dan dimana Wid bisa merasa nyaman seperti di rumahnya.

Bagi yang kurang mendapat background, ENCOUNTERS adalah hasil perjalanan Rony selama 6 tahun menjadi fotografer, perjalanan dia merasakan tinggal di kota, bersama dengan manusia atau makhluk yang ditemuinya dan foto-foto yang diambil tanpa rencana. Perjalanan yang juga ditempa dengan tema dari film favoritnya "Close Encounters of The Third Kind" dan bagaimana kita, seperti kata Oscar Motuloh, melihat benda-benda asing di sekitar kita, bagaikan menjadi alien yang tiba di bumi itu sendiri. Emosi yang terasa dari pameran ini selain keasingan adalah limpahan emosi dari Rony dan, meminjam kata kata dari Oscar Motuloh kembali,  dari orang setenang Rony, ENCOUNTERS adalah sebuah teriakan, mungkin itu juga kenapa mereka berdua memilih sang kera menjadi cover depan buku ENCOUNTERS.

Terbang ke Jogjakarta, saya menjumpai pameran Wid, yang bertema Feels Like Home, dimana Wid menginterpretasikan temanya dengan memamerkan arsip-arsip fotonya yang berjumlah 200 buah di salah satu ruangan kecil di KPY. Wid merasa rumah dalam artian fotografi adalah perasaan nyaman dalam fotografi yang tidak dipenuhi dengan elitisme, kolektif, paham bahwa saya lebih benar daripada anda dan pencapaian-pencapaian dalam bentuk award dan workshop. Saya lalu mengerti betul kerinduan Wid akan fotografi karena fotografi itu sendiri dan bagaimana pusingnya berada di sebuah pusaran yang merumitkan segala sesuatu yang harusnya mudah. Yang harusnya intuitif.

Dapat kita lihat disini, es krim-es krim Rony dan kenyamanan rumah Wid adalah sama! Mereka berakar dari fotografi tanpa konsep, fotografi yang dimulai karena fotografi itu sendiri. Mereka menggambarkan perjalanan atau titik awal sang empunya foto, menggambarkan emosi dan perasaan mereka. Adalah hal ini sama juga dengan bertemu dengan teman yang sudah lama tak berjumpa, kita melihat hal-hal baru tentang mereka dan mereka menjadi pengingat tentang apa yang sudah pernah kita lalui.

Dan itulah fotografi dan hidup, kita terkadang terlalu terfokus pada konsep dan tujuan lalu melupakan sebuah proses atau alasan kenapa kita memulainya. Kita terkadang mempersulit apa yang kita sudah miliki dan menghilangkan kesenangan kita akan es krim dan rasa nyaman di rumah.

 

Salam

 

Ridzki, Jogjakarta 18 Maret 2013.

Di awal penulis menyebutkan fotografi sebagai sampah, tanpa mengurangi segala hormat penulis tidak bermaksud membandingkan karya keduanya sebagai sampah. Hal itu hanyalah ilustrasi belaka.

Post Foundry Notes: South East Asian Photographers, Our Countries as Working Grounds and The Future.

Added on by Ridzki.

This notes are to explore the questions that I had developed during the Foundry Photojournalism Workshop in Chiang Mai, August 2012. This is not an attempt to criticise or making an fuss rather this is my personal opinion and rants as based on the conversation that I had with certain people and the observation during and after the workshop. First thing that I noticed when I arrived to meet my fellow students in Chiang Mai is, where the hell are the South East Asian Photographers?

Fotografer.net (Indonesia) may boast that they are the biggest photography forum in South East Asia (SEA) however, there are only three photographers from Indonesia joining in, myself, Arif Setiawan (the scholarship recipient from Bandung) and Dilla Djalil-Daniel (Foundry alumni), Bea Wiharta (Reuters Photographer) is supposed to join us but he had a sudden assignment . Given the fact that Foundry was being announced at the end of 2011 the number of people who showed up is dissapointing, for other SEA countries it was slightly better although the names that showed up are established photographers that has previously exposed to similar workshop namely the Angkor Photo Workshop or others.

Malaysia had around 5 people on board, Singapore had 3(?), Brunei none, East Timor none, Cambodia none, Vietnam had 3, Burma had 3-4, Lao PDR none.

This is dissapointing for me .

"Oh it is expensive". Not really though, Foundry was announced at the end of 2011 and only conducted in August 2012. That means 6 months period of saving your money and given the fact that a lot of photographers nowadays are the growing middle classes, I don't see why is this the reason.

The low turnout can be argued that documentary photography and photojournalism was quite a niche in the genre, it has even see decline even in the western world as spoken by Alison Morley (ICP). But isn't the possibilties of getting mentored by the biggest names of photojournalism, meeting like minded people in an exotic place and building connection is enough to excite people?

South East Asian Photographers and Our Countries as Developed Market.

Read up David Alan Harvey; (Magnum) conversation with James Estrin; (NYT Lens Blog), on BURN Magazine, they are stating that how becoming a photographer today is one of the best days of becoming one because never was in history that we have unlimited access to almost every people in the planet through internet and how this opens up to new possibilities that was never imagine before. Below is the excerpt of the interview.

JE: And I love that kind of photography, and working for a newspaper. I happen to really like working for a newspaper, but what I am saying is that it has never been an easy profession; it’s a myth that it was easy twenty-five years ago.

DAH: Yeah, that’s bullshit.

JE: I don’t know about forty-five years ago, but I know about thirty years ago and it was not easy!

DAH: No, it was not easy and it seems easy to the young because they see us a certain way and they forget that it wasn’t like that really. Every generation has to build their own thing.

JE: And so for all the challenges which young photographers face, and they do face serious challenges, I am not making them smaller than they are, there are also tremendous opportunities that didn’t exist then that do now.

The similar sentiment was mentioned as well by Henrik Kastenkov (Bombay Flying Club) in his seminar session during Foundry albeit in a more confusing manner to some. He was stating in the age of the Internet, one only need to make a great work, promoting it and make a business model out of it to survive. Everything else is already there; the audience, and the manners of which you reach your audience.

That is the general condition of the photography world, now let's dig up what are the other conditions that we have as a SEA Photographers:

  • All the big names (publishers, contests, workshops, etc) are still very western oriented and viewed in a western perspective, only a handful are SEA native.
  • Established and up and coming western photographers are existing in the SEA market as well and they are being assigned and commissioned to go to the SEA.
  • SEA photographers have more limited resources as opposed to the rest of the Asia or Western world (funding, knowledge).
  • "SEA is no longer a developing market, it is a developed market" ~ Ashley Gilbertson (VII). A statement that I have found to be somewhat true.
  • The number of people who owns camera are increasing exponentially, to the point where photography is a more democratic process than general election.
  • Crowdfunding method existed, however it was not popular among the SEA native, as far as I can remember one filmmaker is using the method to fund her works and my friend is using one as well to fund his. I don't know whether SEA photographers are comfortable on using this as a platform to fund their projects.

Let's relate this to the writing that I had earlier; we had the people, we living in an age where information is achieveable in a few clicks, it was never been easier to publish work than ever, our region is a developed market and many more. However somehow, we can't realize that we live in this golden age of photography. People are rather stuck with trivial matters, what aperture, what shutter speeds, what lens, rather than discussing in depth where is my photography going and how can you make yourself better.

So there, my observation, would this condition are going to be improved in the future? I don't know, but if people are still staying in the bubble, thinking that photography are only about gears, bikini clad girls, HDR landscape and human interest without going in depth and creating quality work, I can guarantee that we are not going to move much from where we are now.

With Regards to Occupation and Passion

Added on by Ridzki.

When I start my job as a monitor, I didn't only like it but also thought this is the best job that I could have landed; I get enough salary to save some money, travel in a frequent basis, meeting new people, good learning program, career ladder and opportunity and the best thing is I believe that I took part in enhancing the better life of mankind. In short it was a work worth doing. Several years after I  joined the company, I kinda get the idea how certain things works and from time to time I get bumped or stuck by the bureaucracy (in which I personally think that it is necessary). These are the things that finally wears thin of my passion in working and this happens right when I am in the middle of the process of moving to another country. On the other hand, when I was first started with my work, I bought a camera. Mind you I'm not that artistic person (can't sing, dance,paints or play musical instrument) and my encounters with this light capturing devices is for the sole sake of documenting purposes (for the records I shoot film back in the days but I'm fully a digital person now). My relationship with the camera and my work then began, I've begun to take photography lesson on my own, reading the resources off the net, applying everything that I could get my hands on to the extend that I begin to work in my spare time as a freelancer.

Over the years my relationship with photography have evolved, I've not only respected this instrument on my hand as my the extension of my eyes but also as a medium to express myself. This evolving relationship if I may say, have made my work evolved at some level as well, however I still keep my jobs at the utmost level, thinking that I still do a work worth doing.

Then it struck me, through a series of events. I felt that the job that I've given so much attention is merely a work, nothing else. At the same time I need to go outside of town to monitor in a site, I take an earlier flight a day before to explore the city because I've never actually went to this place. I bring my camera with me, exploring the city and just taking pictures. The next two days I was busy with my monitoring and I can only check my pictures when I was back at my place, after I check the pictures I was intrigued by what I get (not all, but you get the point right?). The pictures that I took that day led to another conclusion in my life and another evolution to my work.

I've concluded that I would move to this another country for photography's sake. To shoot more, to attend workshop more, to get my hands on photography books more in which in the end to evolve my (photography) works more. That doesn't mean that I will clumsily do my day to day job from now on, no of course not, I will still have high regards of my professionalism. It's just that my priority is different and because of that I am happy now.

The Photobook Craze

Added on by Ridzki.

I developed an affinity to photobooks, the one coming from the famous, the one that interest me and the one coming from the bargain section. Problem is I hardly devour the book, sometimes even it just lying there and when I had the time I would probably just skimming through the pages. Then it struck me.

Am I buying photobook just for the sake of having one? or because the photographer's there and I could get his signature in the book that I bought?

This thought are consuming me and making me thought that this is why I never become a good photographer, because I hardly learn from the examples that is in my possession.

And by that I got one of my new year's resolution.

 

A Quarter of Century

Added on by Ridzki.

I believe I'll die young, I believe in my heart that I won't be there to see the sun rises on my 25th birthday, but yet here I am, living and writing this piece. So how does it feels to turn to a quarter of century as living breathing person? as me?

I felt tired.

As much as I accustomed to birthdays, this is the only one where I felt tired. Tired because I have been tied to my jobs, my life and my commitments. I'm tired because I felt that I haven't achieve anything (in one aspect) but also tired of all the work that I have done (thus have been achieved or yet to achieve, in another aspect). Yet I am still eager to see what's there on the horizon, the unseen and yet to come and brace if not march towards it. This eagerness also one of the reason I still survive to this day.

So what's there for me in the future?

I know, I will soon move back to Malaysia and looking forward for the opportunity to learn something new again. To look with another perspectives and to catch up with what I haven't been doing last time. After that? who knows. Probably the world, probably back to Indonesia or probably stay there.

That said, I would like to say that I am being very grateful for every support that I had, from my families and friends, from Felisia, from others whom I talked and discuss with. From those who leave their marks on me, long lasting impression that will I remember and for those I haven't met but will later on.

God speed to you all.

Lucki The Magician

Added on by Ridzki.

Met him first when he's performing on the street and his name is Lucki. Making a living by performing and becoming additional player for Steven and The Coconut Tree.

As an artist himself, Lucki also one of those people who turn Jakarta's street into a surrealist metropolis.

Dance to his tunes he'll make you forgot about all the madness and see only the beauty of this city.

----

After my initial encounter with Lucki, I met him several times over the course of my living here in Jakarta. Everytime I come back from my office and passing through the streets, the tunes coming from his sax can magically penetrate the madness that Jakarta produced after office hours and everytime I heard it I smiled. I smiled because there's still an antidote to let me escape from the pollution and noise.

He in this sense was still the same magician I met a year ago.

In Between Sadness and Happiness

Added on by Ridzki.

The last two weeks I was doing two assignments each on different week. Now, before I start I was doing reading and looking at pictures from Stephen Shore, Bill Eggleston, our homegrown Kurniadi Widodo and looking at books such as Street Photography Now as well as Magnum Magnum. With all these influence on documentary photography, I can only say I viewed my assignment with a new perspective, a documentary perspective in which I can strangely feel that emotions filling the air from the subjects. Now here's a picture from the two events, one is a wedding and one is an event filled with orphans.

Guess which one I felt the sadness in the air and which one where I felt that the long lost happiness is found back.

 

Advice for The Young

Added on by Ridzki.

Forget about the profession of being a photographer. First be a photographer and maybe the profession will come after. ~ Christopher Anderson from Magnum, See his works here,  more advice can be found here and here

Buat Apa Lagi Kita Motret?

Added on by Ridzki.

Jadi gini ceritanya, pertanyaan ini muncul ketika saya membaca artikel tentang konflik antara Jay Maisel dan Andy Baio  lalu berlanjut kepada analisa yg ditulis oleh Jeremy Nicholl, tapi inti dari tulisan ini adalah bukan ngebahas Jay, Andy atau Jeremy tetapi lebih kepada satu statment yang ada di blog si Jeremy yaitu tentang 1 grup di Flickr, tepatnya postingan di grup itu. Saya yakin semua fotografer online pasti tau Flickr, mereka pernah nyoba make atau jadi anggota pro sekarang dari sekian banyak fitur yang ada, ada 1 fitur yg bernama group, fungsinya yah, bikin group sesuai dengan selera kita. Salah satu grup itu bernama DeleteMe, cara kerja di group ini adalah user meng-upload 1 foto dan user-user yang lain bisa voting apakah foto tersebut bisa di save atau di delete. Tersebutlah 1 user bernama André Rabelo yang mengupload 1 foto dengan resolusi kecil, buram, shaky dan tidak tajam sama sekali. Hasilnya bisa dipastikan semua orang pasti bilang delete me, tapi ternyata si uploader bukanlah fotografer aslinya dan foto yg buram, shaky dan tidak tajam itu adalah karya milik Henri Cartier-Bresson.

Ok kembali ke judul, dari pembicaraan di Group itu, mulailah saya menelusuri komentar komentar yang ada, sebagian yang menyebut itu harusnya dihapus mulai sadar mereka salah, beberapa orang mengucapkan "inilah yang terjadi kalau sebagian besar tidak mempelajari sejarah fotografi" tapi yang paling menohok dan membuat saya berpikir adalah komentar dari The Chorizo Warrior yang saya ambil kutipannya:

WHO WILL REMEMBER A PERFECT SHOT SET UP IN A STUDIO OF A F*%^ING TOMATO IN 50 YEARS TIME?!!??

Dan komentar itu adalah inti dari blog posting ini semua.

Beberapa kita membawa kamera ketika travelling, beberapa membawa di jalanan, beberapa bawa untuk gaya biar ada yg digantungin di leher dan beberapa bawa karena mereka penghasilannya untuk memotret. Khusus yang terakhir mungkin postingan yang ini tidak akan berlaku.

Ketika kita travelling apa yg akan kita foto? Sunrise, Sunset, gunung yang berlapis, slow shutter sungai/pantai/awan, orang-orang yg kita temui atau foto narsis mungkin?

Ketika kita di jalan mendokumentasikan hidup, kita membahas atau terinspirasi dari Cartier-Bresson, Gilden, Parr, Stuart atau Moriyama. Atau sebagian besar mungkin masih terjebak bahwa kalau di jalanan ya moto yang paling gampanglah pengemis atau anak-anak jalanan dan diberi caption yang sedikit mengiba.

Ketika kamera menjadi aksesoris, yah kalo ga narsis, ya foto temen-temen atau pacar yang unyu-unyu atau yah keluarga.

Singkatnya tiap kali kita memotret, tiap kali kita memencet shutter semua yang terekam yang di memory card kita pasti gambar gambar yang sudah sering muncul. Cuma di tempat atau dengan subject yang berbeda dengan fotografer yang berbeda pula. Dari sini bisa disimpulkan sebagian besar dari pemilik kamera itu mandeg proses kreatifnya, karena berulang melulu konsep fotonya.

Jadi kalau sudah berulang kali kita potret, berulang kali kita liat dan berulang kali kita lakukan. Buat apa lagi kita motret kalau cuma menuh-menuhin harddisk?

I am glad, I didn't win the IPA contest

Added on by Ridzki.

Invisible Ph t grapher Asia (don't ask where the "o" are, they did write it that way) conducted a Street Photography contest a month back. To make story shorts, I sent three of my street shots hoping that I would win the "Classic Street Kit" which consist of:

  • A great shooter/user condition black repainted LEICA M2 Rangefinder Camera. This is one of our very own cameras we use for street photography.
  • A brand new Nokton 35mm F/1.4 Lens kindly sponsored by Chiif Cameras, Official Voigtlander Dealer.
  • An original IPA SUNNY 16 Dog Tag.
  • 3 rolls of Kodak TRI-X film in a 35mm Ammo Sleeve that we designed ourselves and use.

(or probably that's too much, being a finalist is more than enough for me.)

Then I waited in anticipation as they announced the 20 finalist, literally one by one and as the title implied I did not win. Strangely as the fact come to me, all the tension I had was slowly diminishing. When I got my head through and see the photographs by the finalist, I can say that I am glad I didn't won and I have learn these few things:

  1. Indonesia harbours a lot of Street Photographers, out of 20 there's 6 Indonesians become a finalist. I believe that if only we discovered camera first probably people will cite an Indonesian as a father of street photograph rather than Cartier-Bresson.
  2. In relation to #1 we didn't need to go to Paris or Europe to have good street shots. The subjects, terrains, cultures here in Asia are different but that didn't stop great pictures being made right? I'd say take our camera everyday and take a shot at anything that interest us.
  3. At first I am still confused about the definition of Street Photography. What is it, try to capture the decisive moment? the symmetry? the action? the finalist entries allow me to see a pattern, a pattern so obvious but I couldn't put it into words yet (confused? yes it is also making me more confused). However, to enlighten the people at IPA  said that  "there needs to be more happening within the frame for it to hold its ground as a good street photograph", while that this is what the people there say, we mustn't forget  that photography is a very subjective matter, what they perceive as good, might not be your cup of tea. I'd say rather that contradicting their choices we need to learn from the best (entering competition is one), our mistakes and create our own vision of street photography.

So why did I am glad that I didn't win? simply because the finalits' works have tell me something I didn't know before or something that I oversee. That something (in which I couldn't explain as well) might not be coming to me when I become one of the finalists.

So I believe that's about it, might write a little bit more when I can think of something or figuring out that "something". In the mean time congrats for all the finalists and head over to this page to see the slideshow of their works.

Candid

Added on by Ridzki.

Anyway, there's this branch of photography called "street photography" essentially the street become your studio, you can capture everything you see in front of you if you're fast enough. You can capture candid expression, humorous irony or sometimes divine geometry precision in which all or some will involve people and their life. Judging from what I write above,  this street photography are bound to be voyeuristic in nature, however unlike pornography it is conducted for the sake of art.

Putting our dirty mind aside, there are a lot of reason why people didn't want to get photographed in this time and age, where releasing a portrait to the internet is the same as putting a potential meme, however we didn't want that, we just want to get that portrait of a stranger up in the internet as a source of discussion looking at the relationship between photographs and the classical arts.

Yes, what we do will irate a lot of people and sometimes it's also bugging me to become such douche to put up a camera and then get close to the subject and capture their unawareness,  but then again aren't all things and living creature in the public space are deemed to be public's?

Eskapisme: Sebuah Kultur Penduduk Jakarta

Added on by Ridzki.

Saya ga habis pikir, penduduk sepadat itu ada di Jakarta. Mungkin lama-lama nanti orang Jakarta itu tidur berdiri semua.

Itu kata teman saya, urang Bandung seorang entrepreneur yang punya hotel di Cihampelas, dekat dengan para pool travel. Tentu saja usahanya sukses berat, itulah yang saya simpulkan karena saya waktu itu ngobrolnya di hotel dia yang cabang ke 2.

Tapi saya tidak mau menulis tentang teman saya itu, yang saya mau bicarakan adalah kenyataan di Jakarta dan budaya eskapisme para penduduknya.

Kabur Dari Jakarta

Kenapa kabur?

Bukankah Jakarta adalah tempat dimana saya bisa mendapatkan apa saja dengan mudah? makanan murah, tempat tinggal dengan beragam fasilitas, mall-mall yang menjulang tinggi, rumah sakit yang beragam beragam fasilitas transportasi.

Bukankah Jakarta adalah tempat dimana teman-teman berada? dimana orang-orang berada dekat dengan kita sehingga ruang tak lagi menjadi suatu keberatan ? dan apabila kebetulan mendesak, maka telekomunikasi pun masih menjadi suatu kemudahan disini.

Maka sesungguhnya yang saya sebutkan memang fakta, fakta tentang ruang tetapi tidak tentang waktu.

Karena waktu itu berjalan dengan cepat sekali di Jakarta, tetapi kita habis hanya untuk mengarunginya.

Belum lagi masalah konsumsi.

Barang, jasa, barang atau jasa, barang dan jasa, barang dan/atau jasa, atau bahkan komoditas-komoditas unik lainnya. Uang seakan-akan hal yang pasti anda perlukan dan dapatkan bila ada disini.

Letih.

Dan hanya memang keletihan yang terasa di akhir hari. Letih bertemu orang yang sama, letih berjalan mengais hidup, letih ketika di akhir pekan harus bekerja ketimbang tidur sampai siang, letih yang sama ketika bangun terlalu siang dan letih menyesal kenapa tidur sampai siang.

Kabur adalah jawaban, kabur adalah solusi. Kabur dari Jakarta berarti kabur dari permasalahan, Kabur dari keletihan. Lalu kabur pun menjadi kultur, kultur eskapisme.

Kultur eskapisme ini sendiri pun tergantung kepada orang-orangnya. Para realis menuju sebuah kenyataan bahwa kabur selamanya bukan pilihan, mereka perlu bekerja, berbakti kepada orang tua, mengejar kesejahteraan dunia dan kalau bisa mengejar sebuah kebahagiaan akhirat, kalau mereka bisa bertahan menjadi seorang realis.

Seorang idealis, tak akan berpikir bahwa dirinya harus kembali ke realitas, mereka bisa kabur selama-lamanya. Terus-menerus lari, to become a stranger in a strange lands, sampai pada akhirnya ajal menjemput saya kira. Mereka bisa datang dari berbagai kalangan, mereka yang bisa melawan dan bertahan. Mereka yang menjadi role model dari para realis, dan mereka juga yang mungkin menginginkan menjadi seorang realis.

Akhirnya mengingat seorang teman yang menjadi seorang realis dan idealis pada saat yang bersamaan, karena pekerjaan dan nama besarnya sudah memungkinkan ia untuk kabur berlama-lama tetapi tetap memiliki simpanan untuk akhir hayatnya.

Jakarta makin panas yah, gw sekarang udah kaga demen keluar-keluar, mending disini aja. Kerja.

Tar Juli aja baru jalan, mau 2 bulan ke Eropa.

Ngapain?

Ya, kerja.

The Thing About..

Added on by Ridzki.

“The thing with freelance jobs is that when you already get into the money business is that you tend to forgot all the things that make you got into that jobs in the first place.” "You tend to forget the happiness when you trigger the shutter"

"You tend to forget the feeling when you draw the basic sketches"

"You tend to forget your creative endeavour"

"You tend to forget how liberating it is to writ"