Photographer

Filtering by Tag: Jakarta

Four People Sat in A Corner of A Park

Added on by Ridzki Noviansyah.

Four people sat in the corner of park, they were talking about their past, one of them is a female and the other three, male.

I happen to hear their old stories about debauchery, angst and misleading adventures. 

One of them looks like banker, One looked as he had never past his punk lives, One had hair too long for someone who works in an office and the female looked like she's in her thirties. 

They didn't notice me when I came and sat besides them. 


Four people sat in the corner of a park, they told stories of what they used to do and what they used to use. 

I happen to took notice while waiting for my food. 

One that never past his punk lives, told stories about the drugs and places while the other three adding in the details . 

He talked about Bengkel and E and other things that you need to grind and were not too kind. 


Four people sat in the corner of a park with cigarettes and phones at their table. 

I was still waiting for my food when they continued to tell stories about their good old times. 

One that look like a banker was telling stories about their mutual friend, who came home after living overseas for quite some time. He brought girls to his safe house and the banker pointed to the female saying "you were part of the crowd.". 

"I wasn't" she replied.


Four people sat in the corner of a park, these days they drank water instead of alcohol. 

My food finally come and I started to eat. Slowly.

One that look like a banker continued on, the same friend that brought girls home was finally caught up by his parents, a doctor. 

He end up transferred to India, probably starting another adventure there. 


Four people sat in the corner of a park, they were checking their phone instead of checking others out.

I ordered a drink and when it arrived the banker started to talk again. 

Now he talked about an ex of their mutual friend during high school, a 17 year old in an all-girls school. 

She shared a picture of her on a bikini to her ex' friends. Just to make him jealous. 


Four people sat in the corner of a park and they were getting ready to head back. 

The night still young I think, but probably age has crept up on them. 

The man with the long hair said to the female about her child who's turn 17. He reminded her that she shouldn't let her to drive alone at night and she agreed. 

Without any more comments they all stand up and left.


I sat alone on a corner of a park, thinking. 

Would I had the chance to talk about something like that when I grew old or would my luck ran out before I had the chance.  

Es Krim dan Rasa Nyaman di Rumah

Added on by Ridzki.

Marilah kita bicara sebentar tentang fotografi yang dilakukan dengan porsi intuisi lebih banyak daripada konsep. Walaupun sebaiknya itu dibagi menjadi 2 sama besar (berdasarkan paparan Wid tadi malam dari hasil workshop photography booknya) tapi ada baiknya kita menelaah dari porsi intuisi untuk saat ini. Porsi intuisi ini mudah, kamu lihat apa yang kamu suka maka abadikan saja, kalau meminjam istilah lomografi "Don't Think Just Shoot". Kita sedikit banyak menyimpan foto-foto seperti ini, foto yang diibaratkan sebagai sampah, tah itu tampang teman yang terlihat bodoh, makanan enak yang sebentar lagi akan disantap atau pemandangan ketika liburan. Dari hasil fotografi yang tercerai-berai dan nampak tidak ada hubungan ini cepat atau lambat akan muncul pertanyaan, mau dibawa kemana sampah-sampah ini? berpindah-pindah dari 1 hard-drive ke hard-drive lain sajakah?

Akan tetapi sampah bagi satu bukanlah sampah bagi yang lain, Minggu lepas saya berkesempatan datang ke ENCOUNTERS, pameran oleh Rony Zakaria dan Feels Like Home pameran kolektif dimana Wid juga berperan. Di pameran saya belajar arti foto-foto yang selama ini mungkin kita lupakan, foto-foto intuitif kita, foto dimana Rony merasa seperti memakan es krim yang berbeda rasa setiap harinya dan dimana Wid bisa merasa nyaman seperti di rumahnya.

Bagi yang kurang mendapat background, ENCOUNTERS adalah hasil perjalanan Rony selama 6 tahun menjadi fotografer, perjalanan dia merasakan tinggal di kota, bersama dengan manusia atau makhluk yang ditemuinya dan foto-foto yang diambil tanpa rencana. Perjalanan yang juga ditempa dengan tema dari film favoritnya "Close Encounters of The Third Kind" dan bagaimana kita, seperti kata Oscar Motuloh, melihat benda-benda asing di sekitar kita, bagaikan menjadi alien yang tiba di bumi itu sendiri. Emosi yang terasa dari pameran ini selain keasingan adalah limpahan emosi dari Rony dan, meminjam kata kata dari Oscar Motuloh kembali,  dari orang setenang Rony, ENCOUNTERS adalah sebuah teriakan, mungkin itu juga kenapa mereka berdua memilih sang kera menjadi cover depan buku ENCOUNTERS.

Terbang ke Jogjakarta, saya menjumpai pameran Wid, yang bertema Feels Like Home, dimana Wid menginterpretasikan temanya dengan memamerkan arsip-arsip fotonya yang berjumlah 200 buah di salah satu ruangan kecil di KPY. Wid merasa rumah dalam artian fotografi adalah perasaan nyaman dalam fotografi yang tidak dipenuhi dengan elitisme, kolektif, paham bahwa saya lebih benar daripada anda dan pencapaian-pencapaian dalam bentuk award dan workshop. Saya lalu mengerti betul kerinduan Wid akan fotografi karena fotografi itu sendiri dan bagaimana pusingnya berada di sebuah pusaran yang merumitkan segala sesuatu yang harusnya mudah. Yang harusnya intuitif.

Dapat kita lihat disini, es krim-es krim Rony dan kenyamanan rumah Wid adalah sama! Mereka berakar dari fotografi tanpa konsep, fotografi yang dimulai karena fotografi itu sendiri. Mereka menggambarkan perjalanan atau titik awal sang empunya foto, menggambarkan emosi dan perasaan mereka. Adalah hal ini sama juga dengan bertemu dengan teman yang sudah lama tak berjumpa, kita melihat hal-hal baru tentang mereka dan mereka menjadi pengingat tentang apa yang sudah pernah kita lalui.

Dan itulah fotografi dan hidup, kita terkadang terlalu terfokus pada konsep dan tujuan lalu melupakan sebuah proses atau alasan kenapa kita memulainya. Kita terkadang mempersulit apa yang kita sudah miliki dan menghilangkan kesenangan kita akan es krim dan rasa nyaman di rumah.

 

Salam

 

Ridzki, Jogjakarta 18 Maret 2013.

Di awal penulis menyebutkan fotografi sebagai sampah, tanpa mengurangi segala hormat penulis tidak bermaksud membandingkan karya keduanya sebagai sampah. Hal itu hanyalah ilustrasi belaka.

Lucki The Magician

Added on by Ridzki.

Met him first when he's performing on the street and his name is Lucki. Making a living by performing and becoming additional player for Steven and The Coconut Tree.

As an artist himself, Lucki also one of those people who turn Jakarta's street into a surrealist metropolis.

Dance to his tunes he'll make you forgot about all the madness and see only the beauty of this city.

----

After my initial encounter with Lucki, I met him several times over the course of my living here in Jakarta. Everytime I come back from my office and passing through the streets, the tunes coming from his sax can magically penetrate the madness that Jakarta produced after office hours and everytime I heard it I smiled. I smiled because there's still an antidote to let me escape from the pollution and noise.

He in this sense was still the same magician I met a year ago.

This is Massive

Added on by Ridzki.

Apparently there will be three photography exhibitions next week in Jakarta and each opening is in the span of three days to make it more interesting one of it is actually "The Biggest Photography Exhibition in Indonesia" ever. First we have Martin Westlake "Eastward" Exhibition in Dia.Lo.Gue Artspace, Kemang.

Then "Indonesia: A Surprise" a parallel exhibition in Galeri Salihara and North Art Space in Ancol.

Finally the biggest of them all "Beyond Photography" in Ciputra Artpreneur Center.

Candid

Added on by Ridzki.

Anyway, there's this branch of photography called "street photography" essentially the street become your studio, you can capture everything you see in front of you if you're fast enough. You can capture candid expression, humorous irony or sometimes divine geometry precision in which all or some will involve people and their life. Judging from what I write above,  this street photography are bound to be voyeuristic in nature, however unlike pornography it is conducted for the sake of art.

Putting our dirty mind aside, there are a lot of reason why people didn't want to get photographed in this time and age, where releasing a portrait to the internet is the same as putting a potential meme, however we didn't want that, we just want to get that portrait of a stranger up in the internet as a source of discussion looking at the relationship between photographs and the classical arts.

Yes, what we do will irate a lot of people and sometimes it's also bugging me to become such douche to put up a camera and then get close to the subject and capture their unawareness,  but then again aren't all things and living creature in the public space are deemed to be public's?

Eskapisme: Sebuah Kultur Penduduk Jakarta

Added on by Ridzki.

Saya ga habis pikir, penduduk sepadat itu ada di Jakarta. Mungkin lama-lama nanti orang Jakarta itu tidur berdiri semua.

Itu kata teman saya, urang Bandung seorang entrepreneur yang punya hotel di Cihampelas, dekat dengan para pool travel. Tentu saja usahanya sukses berat, itulah yang saya simpulkan karena saya waktu itu ngobrolnya di hotel dia yang cabang ke 2.

Tapi saya tidak mau menulis tentang teman saya itu, yang saya mau bicarakan adalah kenyataan di Jakarta dan budaya eskapisme para penduduknya.

Kabur Dari Jakarta

Kenapa kabur?

Bukankah Jakarta adalah tempat dimana saya bisa mendapatkan apa saja dengan mudah? makanan murah, tempat tinggal dengan beragam fasilitas, mall-mall yang menjulang tinggi, rumah sakit yang beragam beragam fasilitas transportasi.

Bukankah Jakarta adalah tempat dimana teman-teman berada? dimana orang-orang berada dekat dengan kita sehingga ruang tak lagi menjadi suatu keberatan ? dan apabila kebetulan mendesak, maka telekomunikasi pun masih menjadi suatu kemudahan disini.

Maka sesungguhnya yang saya sebutkan memang fakta, fakta tentang ruang tetapi tidak tentang waktu.

Karena waktu itu berjalan dengan cepat sekali di Jakarta, tetapi kita habis hanya untuk mengarunginya.

Belum lagi masalah konsumsi.

Barang, jasa, barang atau jasa, barang dan jasa, barang dan/atau jasa, atau bahkan komoditas-komoditas unik lainnya. Uang seakan-akan hal yang pasti anda perlukan dan dapatkan bila ada disini.

Letih.

Dan hanya memang keletihan yang terasa di akhir hari. Letih bertemu orang yang sama, letih berjalan mengais hidup, letih ketika di akhir pekan harus bekerja ketimbang tidur sampai siang, letih yang sama ketika bangun terlalu siang dan letih menyesal kenapa tidur sampai siang.

Kabur adalah jawaban, kabur adalah solusi. Kabur dari Jakarta berarti kabur dari permasalahan, Kabur dari keletihan. Lalu kabur pun menjadi kultur, kultur eskapisme.

Kultur eskapisme ini sendiri pun tergantung kepada orang-orangnya. Para realis menuju sebuah kenyataan bahwa kabur selamanya bukan pilihan, mereka perlu bekerja, berbakti kepada orang tua, mengejar kesejahteraan dunia dan kalau bisa mengejar sebuah kebahagiaan akhirat, kalau mereka bisa bertahan menjadi seorang realis.

Seorang idealis, tak akan berpikir bahwa dirinya harus kembali ke realitas, mereka bisa kabur selama-lamanya. Terus-menerus lari, to become a stranger in a strange lands, sampai pada akhirnya ajal menjemput saya kira. Mereka bisa datang dari berbagai kalangan, mereka yang bisa melawan dan bertahan. Mereka yang menjadi role model dari para realis, dan mereka juga yang mungkin menginginkan menjadi seorang realis.

Akhirnya mengingat seorang teman yang menjadi seorang realis dan idealis pada saat yang bersamaan, karena pekerjaan dan nama besarnya sudah memungkinkan ia untuk kabur berlama-lama tetapi tetap memiliki simpanan untuk akhir hayatnya.

Jakarta makin panas yah, gw sekarang udah kaga demen keluar-keluar, mending disini aja. Kerja.

Tar Juli aja baru jalan, mau 2 bulan ke Eropa.

Ngapain?

Ya, kerja.