Photographer

Catatan Akhir Tahun: Tentang Fotografi Indonesia.

Added on by Ridzki.

2013 adalah tahun yang sangat amat mengasyikkan untuk fotografi, karena seakan-akan semua yang selama ini berjalan di tempat saja tiba-tiba bangkit dan bergerak secara bersama-sama. Hal ini nampaknya juga ditentukan oleh kekuatan media sosial yang berperan untuk menjadi corong kegiatan-kegiatan hal-hal yang mengasyikkan ini tadi. Tahun ini dipenuhi dengan banyak sekali peluncuran buku baik secara independen maupun dengan metode-metode yang konservatif, walaupun dari segi kuantitas buku yang diterbitkan belum sebanyak di Eropa atau Amerika, namun untuk ukuran Asia Tenggara kita mencatat produktivitas yang cukup baik. Catatan utama tentu saja diberikan untuk peluncuran buku Encounters karya Rony Zakaria, berdasarkan percakapan di artist talk didapatkan sebuah konsensus bahwa buku ini adalah titik tolak pembuktian bagi para fotografer generasi muda dan membuat semacam standar pencapaian baru, baik dari segi teknis pembuatan, penerbitan dan penjualannya buku tetapi terlebih lagi kontennya yang selama buku foto di Indonesia selalu didominasi oleh topik-topik jurnalisme dan coffeetable book. Selain buku Rony, juga ada karya fotografer muda lainnya yaitu Aji Susanto Anom yang meluncurkan buku yang hampir serupa yaitu tentang dokumentasi kota Solo yang berjudul Nothing Personal. Dari rekan-rekan fotojurnalis kita, Safir Makki pun mengeluarkan sebuah buku tentang perjalanan yang dilakukannya di Iran bersama dengan Tjandra M. Amin yang juga mengeluarkan The Colour of Sports, tak lupa pula yang baru saja mengeluarkan pre-order kemarin yaitu Intip karya Roy Rubianto. Sebelum saya lupa, publikasi alternatif The Future of The Past sebuah zine photography analog juga menjadi sebuah pengingat bahwa zine tidak lagi sebuah karya yang diproduksi secara massal dan murah, dengan kerjasama yang baik antar tim dan kedekatan pengguna fotografi analog di Indonesia ini menjadi sebuah publikasi dengan desain dan kualitas terindah di tahun ini.

Selanjutnya dari segi grup atau kolektif, akhirnya Indonesia memiliki sebuah grup yang kira-kira dapat menggambarkan apakah Street Photography rasa Indonesia, Sidewalkers.Asia yang muncul di tahun ini menyatakannya dengan hasil-hasil dari kurasi yang mereka lakukan dan artikel-artikel yang mereka keluarkan. Saya pun berharap banyak dari mereka untuk tahun 2014, mudah-mudahan makin ada gebrakan-gebrakan yang muncul dari pihak SWA seperti misalnya menumbuhkan minat umum terhadap essay photo dengan pendekatan street photography atau pameran kolektif. Tak lupa pula menjamurnya grup-grup street photography yang menggunakan kamera ponsel dan menghasilkan foto-foto yang bisa dianggap sangat baik, diharapkan kedepannya pencapaian visual mereka tak lagi hanya berdasarkan dari fotografer-fotografer luar negeri tetapi juga berani mengeskplorasi kekaayaan visual yang muncul dari diri sendiri.

Anugrah Fotografi Indonesia dan Vision International Image Festival, menjadi catatat tersendiri untuk saya karena saya menyayangkan kurangnya publisitas untuk event yang sangat penting seperti ini. Saya merasa para khalayak umum sepatutnya diberi tahu dan diberi keterangan yang seluas-luasnya agar dapat menggalang dukungan untuk acara ini kedepannya, dan saya berharap pun setelah kita berganti rezim tahun depan masih ada dorongan dari pemerintah untuk membantu mengembangkan dunia fotografi kita. Sangat disayangkan apabila AFI hanya muncul sebagai sebuah acara beberapa jam, memberikan hadiah kepada beberapa nama besar dan tidak ada tindak lanjut dan partisipasi masyarakat, hal yang sama pun dirasakan pada VIIF, baik dari jadwal pameran yang tidak tersedia, waktu yang pendek untuk dapat memasukkan portofolio untuk workshop bersama Francesco Zizola (!) dan pergi ke Bali untuk workshopnya dan hal-hal lain yang seolah-olah membuat kedua event ini adalah event yang sangat ekslusif dan tidak terjangkau oleh khalayak ramai.

Terakhir dari segi pameran, saya sangat bersyukur atas adanya mas Yudhi Soerjoatmodjo yang berhasil merangkumkan arsip-arsip dari Indonesian Press Photo Service dan membuatnya dalam sebuah format pameran dan buku yang sangat bagus sekali. Walaupun buku-buku tentang IPPHOS sudah pernah diterbitkan sebelumnya namun saya merasa ini cukup penting untuk generasi yang lebih muda, karena foto-foto yang ditampilkan dapat menyatu dengan foto-foto sejarah yang selama ini sudah pernah kita lihat sebelumnya. Selanjutnya adalah pameran Dinda Jou Ismail di Galeri Antara, yang berhasil menaikkan derajat fotografi ponsel agar menjadi setara dengan karya-karya yang pernah dipamerkan di Antara sebelumnya. Tak lupa pula dari rekan di Yogyakarta, yang berhasil mengajarkan kepada masyarakat Jakarta bahwa sebuah pameran foto tak perlu lagi mengambil sebuah tema-tema besar, fotografi vernakular masih sebuah hal yang bisa dikemas secara menarik apabila bisa dikerjakan dengan sungguh-sungguh, hal ini dibuktikan pula dengan pameran Dwi Putra yang berjudul Familiar Faces.

Saya kira ini saja yang dapat saya ingat selama tahun 2013 yang bisa menjadi catatan, berdasarkan bincang-bincang dengan beberapa rekan saya merasa tahun 2014 makin banyak lagi hal-hal yang mengasyikkan yang akan terjadi, saya cuma berharap di 2014 makin banyak orang yang mampu memiliki hubungan yang cerdas dengan karya-karyanya, karena hubungan yang cerdas tadi adalah fondasi utama untuk mengevaluasi kelemahan dan kekuatan kita. Saya juga berharap saya dapat melihat lebih banyak karya-karya lain yang muncul di luar kota-kota besar karena itu sistem support yang baik akan menjadi pekerjaan rumah bagi kita semua, dan seperti yang sudah saya utarakan di awal; kekuatan sosial media akan menjadi kunci untuk pencapaian itu.