Photographer

Galau dan Perkara Krisis Seperempat Abad.

Added on by Ridzki Noviansyah.

Datangnya memang perlahan namun teman-teman saya yang seumur atau hanya berbeda beberapa tahun mulai mengeluhkan, atau tepatnya menceritakan kegalauannya kepada saya. Perihal galaunya sih bukan perkara kenapa mereka menjomblo atau kapan bisa membahagiakan pasangannya (kalau ada) dengan jadi mapan (kalau mampu). Tapi dari sependengaran dan hasil diskusi, mereka galau karena mereka belum mencapai apa-apa padahal umur sudah hampir sampai ke 30, sekiranya hidup adalah cuma perputaran banalitas setelah banalitas dalam bentuk rutinitas yang sialnya harus dikerjakan kalau kita mau terus hidup. Singkat kata teman-teman saya ini kena isu psikologis kronis dan hip, krisis seperempat abad.

Padahal kalau mau dipikir-pikir, teman-teman saya ini (dan mungkin kalian juga), seharusnya ga perlu kena krisis psikologis ini, saya ambil contoh, si B misalnya dia punya pacar musisi indie wanita berbakat (menurut seorang selebtwit, kecantikannya pun absolut) dan si B pun baru saja menyelesaikan pendidikan pascasarjana di luar negeri dengan dapat beasiswa. Yang satu lagi pegawai perpajakan,R, entah eselon berapa, dan tidak jelas juga apa dia penyelenggara negara bukan (tapi yang pasti bukan penegak hukum), dia baru saja dipromosikan dan mau bikin buku dan dari respon orang-orang sih nampaknya akan laku keras. Yang terakhir K, teman saya ini tinggal di Yogyakarta, pengamat dan pemerhati fotografi yang pandangannya didengar bagi mereka yang masih junior dan sudah senior sekalipun dan pencapaian personalnya pun sudah banyak.  Singkat kata sebenarnya isu psikologis krisis ini dari pandangan saya itu ga mungkin-mungkin banget buat mereka ini.

Tapi ya namanya manusia pasti penasaran, dan karena saya jarang ketemu mereka, maka saya cuma mencoba mengerti mereka karena dulu pun rasanya saya juga pernah kena krisis ini, Jadi inilah kesimpulan saya mudah-mudahan bisa diterima:

Sebagai manusia yang lahir ditahun 80an kami adalah generasi yang bisa dibilang turunan langsung baby-boomers, kakek-nenek kami hidup dimana kompeni masih ada, bapak ibu kami hidup dimana republik bergejolak, sementara kami lahir pada kondisi nyaman, tidak tahu pasal 1965, terlalu kecil saat 98 terjadi. Masa kecil kami dipenuhi dengan pandangan-pandangan tentang cita-cita dan hidup mapan yang diberi dari sekolah-sekolah, seperti menjadi dokter, pilot atau polisi. Keadaan itu diperparah dengan sedari kecil kami sudah diberi-tahu bahwa ya kamu mesti bisa mencapai itu semua dengan kerja keras, berdoa dan berharap menang lotre. Fast forward ke umur yang sekarang baru kami sadar hidup kami tak seindah kata-kata motivasi dari tumblr, feed #instaceleb yang baru pulang dari liburan di Maldaif atau seperti ketika kami sekolah dulu dan setelah kerja keras, berdoa dan beli lotre, bukannya kami yang makin kaya tapi malah rekening gendut orang lain yang bertambah.  Kombinasi ini dan ditambah dengan kemampuan internet yang mengijinkan kita mengintip kehidupan orang lain yang nampaknya selalu baik dan indah, menjadikan krisis yang seharusnya muncul ketika paruh baya, tiba-tiba muncul ke orang-orang yang masih muda.

Lah lantas bagaimana mengatasi krisisnya?

Sebagai orang yang cuma bisa ngomong macam Mario Teguh, saya sih cuma bisa kasih saran begini; persetan orang lain mau ngapain, kalaupun pencapaian kamu tidak bisa sebesar Arman Dhani dan Gus Mul paling tidak kalau kamu bisa 10% lebih baik dari diri kamu 1 tahun yang lalu itu cukup. Oh dan satu lagi, berbanggalah kalau kamu galaunya bukan gara-gara kamu menjomblo, paling ga kamu termasuk golongan orang-orang yang galaunya non mainstream. Kalau kamu galaunya gara-gara menjomblo, ya saya angkat tangan, karena memang jodoh itu di tangan Tuhan.