Photographer

Filtering by Tag: Jogjakarta

Es Krim dan Rasa Nyaman di Rumah

Added on by Ridzki.

Marilah kita bicara sebentar tentang fotografi yang dilakukan dengan porsi intuisi lebih banyak daripada konsep. Walaupun sebaiknya itu dibagi menjadi 2 sama besar (berdasarkan paparan Wid tadi malam dari hasil workshop photography booknya) tapi ada baiknya kita menelaah dari porsi intuisi untuk saat ini. Porsi intuisi ini mudah, kamu lihat apa yang kamu suka maka abadikan saja, kalau meminjam istilah lomografi "Don't Think Just Shoot". Kita sedikit banyak menyimpan foto-foto seperti ini, foto yang diibaratkan sebagai sampah, tah itu tampang teman yang terlihat bodoh, makanan enak yang sebentar lagi akan disantap atau pemandangan ketika liburan. Dari hasil fotografi yang tercerai-berai dan nampak tidak ada hubungan ini cepat atau lambat akan muncul pertanyaan, mau dibawa kemana sampah-sampah ini? berpindah-pindah dari 1 hard-drive ke hard-drive lain sajakah?

Akan tetapi sampah bagi satu bukanlah sampah bagi yang lain, Minggu lepas saya berkesempatan datang ke ENCOUNTERS, pameran oleh Rony Zakaria dan Feels Like Home pameran kolektif dimana Wid juga berperan. Di pameran saya belajar arti foto-foto yang selama ini mungkin kita lupakan, foto-foto intuitif kita, foto dimana Rony merasa seperti memakan es krim yang berbeda rasa setiap harinya dan dimana Wid bisa merasa nyaman seperti di rumahnya.

Bagi yang kurang mendapat background, ENCOUNTERS adalah hasil perjalanan Rony selama 6 tahun menjadi fotografer, perjalanan dia merasakan tinggal di kota, bersama dengan manusia atau makhluk yang ditemuinya dan foto-foto yang diambil tanpa rencana. Perjalanan yang juga ditempa dengan tema dari film favoritnya "Close Encounters of The Third Kind" dan bagaimana kita, seperti kata Oscar Motuloh, melihat benda-benda asing di sekitar kita, bagaikan menjadi alien yang tiba di bumi itu sendiri. Emosi yang terasa dari pameran ini selain keasingan adalah limpahan emosi dari Rony dan, meminjam kata kata dari Oscar Motuloh kembali,  dari orang setenang Rony, ENCOUNTERS adalah sebuah teriakan, mungkin itu juga kenapa mereka berdua memilih sang kera menjadi cover depan buku ENCOUNTERS.

Terbang ke Jogjakarta, saya menjumpai pameran Wid, yang bertema Feels Like Home, dimana Wid menginterpretasikan temanya dengan memamerkan arsip-arsip fotonya yang berjumlah 200 buah di salah satu ruangan kecil di KPY. Wid merasa rumah dalam artian fotografi adalah perasaan nyaman dalam fotografi yang tidak dipenuhi dengan elitisme, kolektif, paham bahwa saya lebih benar daripada anda dan pencapaian-pencapaian dalam bentuk award dan workshop. Saya lalu mengerti betul kerinduan Wid akan fotografi karena fotografi itu sendiri dan bagaimana pusingnya berada di sebuah pusaran yang merumitkan segala sesuatu yang harusnya mudah. Yang harusnya intuitif.

Dapat kita lihat disini, es krim-es krim Rony dan kenyamanan rumah Wid adalah sama! Mereka berakar dari fotografi tanpa konsep, fotografi yang dimulai karena fotografi itu sendiri. Mereka menggambarkan perjalanan atau titik awal sang empunya foto, menggambarkan emosi dan perasaan mereka. Adalah hal ini sama juga dengan bertemu dengan teman yang sudah lama tak berjumpa, kita melihat hal-hal baru tentang mereka dan mereka menjadi pengingat tentang apa yang sudah pernah kita lalui.

Dan itulah fotografi dan hidup, kita terkadang terlalu terfokus pada konsep dan tujuan lalu melupakan sebuah proses atau alasan kenapa kita memulainya. Kita terkadang mempersulit apa yang kita sudah miliki dan menghilangkan kesenangan kita akan es krim dan rasa nyaman di rumah.

 

Salam

 

Ridzki, Jogjakarta 18 Maret 2013.

Di awal penulis menyebutkan fotografi sebagai sampah, tanpa mengurangi segala hormat penulis tidak bermaksud membandingkan karya keduanya sebagai sampah. Hal itu hanyalah ilustrasi belaka.

Visions Reloaded: Jogjakarta

Added on by Ridzki.

On the beginning it was an idea, born from reading several articles, watching a few clips and enjoying a lot of photographs. The idea is to ditch zoom lenses in favor for a prime or in my case a manual focus prime.

Then it come to fruition when Vesak Day (Birth of The Buddha) comes closer, so on the 13th to 18 May 2011 I decided to roam the Jogjakarta again, carrying two primes (Soligor 28mm f2.5 and EF 50 mm f1.8) along with my trusty zoom (my girlfriend advice me to carry that as well). Turns out I can't quite ditch the zoom altogether but it does give me a fresh perspective on documenting travel pictures.

So here's what I found out;

  • I love my manual lenses because of its simplicity and tones created. I did not need to over thinking things and all the image produced it is as if I'm right standing in front of it. On the other hand I hate it because I can't focus properly in dim light or when I am using small apertures.
  • I can't ditch my zoom, while advocates of the wide/normal prime says that prime allow you to move and be "creative" and zooms are necessarily evil, etc. I just can quit it yet. This is because zoom allow me to be more creative in its own way; I can use the telephoto end in my landscape, I can capture details which often I can't when I am using prime and I can use technique not available for me when I am using the prime.
  • While traveling I don't need so many lenses in my arsenal, I just need my trusty zoom and one prime which often can be the 28 or 35 mm. While doing several assignment on the other hand I will probably need another lenses.
  • I tried movie making  and I found out that it is hard and good software comes with a price, but I'll be trying to create a multimedia album for my travel in the future.
  • I need to learn to ride a motorbike to simplify movement.

So here is the images from the trip:

 

I actually go to Jogjakarta again last weekend, happily using only my prime and here's the results:

 

 

It really worked out, I suppose but will I ditch the zooms altogether? we'll see about that.

Prime: The Way Forward Is to Take Two Steps Back

Added on by Ridzki.

Yesterday some of the people that I follow on twitter is buzzing about a certain photo-journalistic class, the class is already exceptional because it's conducted in Rwanda, by the VII Photo Agency and conducted by none other that Gary Knight and Marcus Bleasdale, however people aren't buzzing because they are excited about the opportunity. They are excited because one particular sentence which appear on the announcement, which I paste here

This workshop will be conducted using digital cameras only. All students are expected to supply their own cameras and lenses. Marcus and Gary really encourage you to come with one body and a 35mm lens or equivalent and a spare camera and lens. Zoom lenses are not really encouraged.

Can you guess which one make the ruckus?

Hint: it's not the digital part.

Anyway I'll be travelling to Jogjakarta and because of that line in the advertisement, I have decided to carry out an experimentation with my camera and the photographs resulted. It's a call of revolution perhaps or a revival of a long lost idea.